Senin, 25 April 2011

SERI PETUALANGAN

SERI PETUALANGAN: Penjual Nasi Goreng yang Sholeh

oleh W Wt Hidayati pada 15 Januari 2011 jam 9:38
Suatu sore yang indah, aku harus pergi ke kota, untuk memenuhi keinginan anak lelakiku yang minta nasi goreng. Kebetulan lauk dan sayur pun telah habis tak bersisa, sehingga untuk makan sore aku harus memasak lagi. Aku pikir, beli sajalah sayur sop, capcay, dan gorengan. Sederhana dan praktis.
Maka berangkatlah aku menuju ke sebuah jalan yng menuju arah bioskop di kota Pemalang. Di situ ada penjual nasi goreng yang sekaligus menjual sayur sop. Sebetulnya , banyak sekali penjual-penjual nasi goreng, mie goreng, dan mie rebus, di sepanjang jalan kota. Rasanya juga relatif tak berbeda. Tak ada yang terasa enak sekali atau istimewa, kecuali kalau berdasarkan selera masing-masing orang.
Sebelum membeli nasi goreng, aku terlebih dahulu membeli keperluan lain, termasuk mendoan. Ketika sampai di nasi gorengan itu, hari sudah menjelang maghrib. Di sana si penjual yang terdiri dari 3 orang pemuda, sedang memasak untuk melayani dua pembeli. Jadi, aku harus antri menunggu giliran dilayani. Salah seorang pemuda kemudian menanyakan dulu pesananku.
            ”Ibu pesen nopo?” tanyanya dengan sangat santun.
            ”Nasi goreng, nggih, setunggal, mboten pedes blas, sop satu, capcay satu, mboten pedes kabeh, nggih Mas?” aku menjawab dengan bahasa campur baur sesukaku.
            ”Nggih, Bu.”dia mengiyakan sambil tersenyum.
Ketiga pemuda itu tampak sangat biasa. Tidak dapat dikategorikan ganteng secara umum, tetapi juga tidak jelek. Mereka dipandang enak, dengan penampilannya yang rapi dan bersih, dengan sikapnya yang sopan dan senyumnya yang mengembang.
Sambil menunggu, aku meminta segelas teh hangat, sementara keduanya sibuk memasak. Pemuda yang satunya, kulitnya putih, tampan, tampaknya dialah pemilik jualan mungkin, karena aku lihat dialah yang menerima pembayaran dari pembeli setelah mereka menerima pesanannya.
Nah, setelah beberapa saat, pemuda tadipun menghampiriku, lalu berkata.
            ”Nyuwun sewu, Bu, kami mau ke masjid dulu. Ibu mau menunggu boten?” tanyanya, sama sepertiku, bahasanyapun gado-gado.
Aku agak kaget. Baru kusadari, waktu maghrib telah sedari tadi. Aku tak segera menjawab, malah dengan sedikit blo’on aku menatapnya. Dia pun mengulang lagi,
            ”Ke masjid dulu, Bu, pripun?”
            ”Oo...hmm...nggih-nggih, kulo nunggu mpun.”jawabku.
Ketiganya lalu pergi, meninggalkan gerobak, aku, dengan sejuta pikiran berkecamuk di benakku.
            Aku memandang ketiga penuda tadi berjalan menjauh, terpesona.
Ternyata sudah maghrib, dan aku masih diluar rumah, mencari makanan untuk memenuhi rasa lapar. Sementara mereka dengan enaknya meninggalkanku, tak peduli dengan urusan rejeki. Tak kuatir jika aku atau mungkin orang lain, bisa saja mencuri barang dagangan mereka. Tak cemas bisa saja aku kecewa, lalu tak membeli lagi dagangan mereka. Tak peduli, tidak takut apapun urusan dunia. Mereka lebih ghirah menjemput kenikmatan akhirat. Mereka takut ketinggalan waktu sholat, mereka malu jika harus berlama-lama menunda sholat.
            Dan aku setia menunggu, dengan rasa malu. Malu pada diriku sendiri, malu pada anak-anak di rumah, malu dengan nasihatku sendiri pada mereka. Betapa selama ini aku selalu meminta mereka untuk tepat sholat. Malu pada suamiku yang terus menerus mengingatkanku, berusahalah untuk maghrib sudah berada dalam rumah, Mi, dampingi anak-anak sholat dan muroja’ah. Malu pada Tuhanku. Bagaimanapun, aku tak bisa menggunakan dalih, bahwa aku pergi toh untuk menyediakan makan bagi anak-anakku, bahwa aku adalah ibu yang baik, dsb dsb. Ongkos alias omong kosong. Kenyataan, aku sudah mengabaikan hal paling penting untuk kehidupan akhiratku.
            Dan aku tetap menunggu, sambil belajar, dari tiga orang penjual makanan pinggir jalan. Bahwa aku tak lebih tinggi derajatnya dari mereka. Pendidikanku duniaku mungkin jauh lebih tinggi dari mereka, tetapi pendidikan akhiratku ternyata nol.
Aku harus belajar mengatur waktu lebih baik lagi.
(SUNGGUH AKU TAK DAPAT KATA PAS UNTUK JUDUL KISAHKU ITU)
· · Bagikan · Hapus
  • Reni Febriani dan Insan Adjie menyukai ini.
    • Fatimah Fadli Tanpa judul pun aku bsa mencerna catatanmu. Memang, kadang kta merasa dibandingkan orla, tapi kenyataannya kta bukan apa2. Aku mau introspeksi dulu ah..
      15 Januari jam 11:50 melalui Facebook Seluler ·
    • Sahru Ramadhan Alhmdulilah..
      Kita harus lebih sering&lebih bnyak brsukur lagi...
      ..skitar kita msih bnyak,utk djadikan i'tibar/pelajaran.
      15 Januari jam 13:45 melalui Facebook Seluler ·
    • Hastati Hendriani Jadi ikut malu aku setelah baca cttnmu ini, soalnya gw jg sering begitu.
      15 Januari jam 15:31 melalui Facebook Seluler ·
    • W Wt Hidayati ‎@Fetty: tapi, tolong, dong kasih saran buat judulnya.
      @Sahru, Ani : meski malu, aku makin sering beli di situ, tapi atur waktu biar gak ditinggal lagi. he..hee...
      15 Januari jam 15:45 ·
    • Anggaraini Maulina K Aku sih ga mrs berdosa2 amat krn klo aku ngalami bgt, swamiku msh ridho krn keluar rmh demi kep kel dan akupun sll diantar swami...so buatku...No problem at all.........
      15 Januari jam 18:00 ·
    • Yogi Hartono Wiwit, critemu runtut, reflektif dan kompletatif. Sip.
      15 Januari jam 21:36 melalui Facebook Seluler ·
    • Elsi Joe Judulnya "Tukang Nasi Goreng yang Shaleh" :)
      16 Januari jam 16:09 ·
    • Insan Adjie Refleksi.......I like Ur notes...
      16 Januari jam 19:08 ·
    • Yogi Hartono Judulnya "petualangan wiwit; eps; wiwit dan 3 penjual nasi goreng"
      16 Januari jam 19:16 melalui Facebook Seluler ·
    • W Wt Hidayati ‎@Yogi: Yogi, dipaparkanlah...maksude reflektif dan kompletatif itu kenapa? Makasih, ya.
      17 Januari jam 1:18 ·
    • W Wt Hidayati ‎@Elsi: judul yang sederhana, jelas, gak pake mikir lama. Thank you, L.
      @Yogi: iya apa ya? Biar kayak lima sekawandan sejenisnya, cerita petualangan memang favoritku.
      17 Januari jam 1:21 ·
    • W Wt Hidayati ‎@Insan Adjie: matur nuwun, Mba.
      17 Januari jam 1:22 ·

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MALU KITA

      Sungguh mujarab !   Menjadi asyik maksiat   Membuat sebab khianat   Betapa dahsyat !   Meruntuhkan iman  Menghapus peradaban.