Hujan Malam. Derasnya sedang. Tak terlalu dingin, cukup menyejukkan. Ini malam yang ke sekian kalinya aku sendiri, tapi tak sepi. Semestaku riuh oleh suara lirihmu yang terangkai angin. Dimensiku seluruhnya penuh dengan siluet utuhmu. Ruang pikirku tak henti berdeskripsi tentangmu.
Hening.....bening.....aku mengingatmu sempurna. Senyummu yang menentukan lapang sempitnya hatiku. Kerling matamu yang mengharuskan aku terpesona. Harum hadirmu yang menebar karisma. Aku tertawan aman oleh tirani lentur yang tak terpatahkan.
Hujan....telah berhenti.
Tapi kau semakin mendekapku erat, di setiap sendi. Kehangatan menelusup sukma. Rasaku terbakar, akan nyala api ragamu yang melekuk liuk, kadang tegak, kadang melemah indah.
Dan hujan...belum rinai lagi.
Aku tetap sendiri, tapi tak sepi. Aku tahu kau setia menemani, meski di lain dimensi. Kita bisa berbicara tanpa kata, menatap tanpa mata, berkecupan dalam hela nafas kita. Bercinta tanpa raga.
Malam turun dari puncaknya. Dini hari....embun terbangun, meninggalkan langit. Lalu sengaja menjatuhkan diri, di hamparan daun-daun, di kuntum bunga, di batang-batang keras dan kokoh. Semak, perdu, rumput,...semua menyerah akan serbuan lembutnya yang satu-satu.
Sayang, Kekasih teramat dalam,....marilah kita kembali berpisah sementara. Ada kekasih lain yang ingin kupeluk erat. Wanginya bukanlah wangimu. Senyumnya bukanlah senyummu. Geloranya berbeda darimu. Tetapi....dia adalah juga gelombang, di lautanku.