Jumat, 31 Desember 2010

THE PAST


Aku bergerak, 
dari masa ke masa. 
Dan meski kau tak mengikat, 
tapi kau tetap penting 
sebagai salah satu penentu 
bagaimana aku menjalani masa ini, 
dan menghadapi masa nanti.
Aku tak bisa menghapus catatan buruk padamu,
bahkan menutupinya. 
Tetapi aku memberi tanda, warna, atau 
bentuk-bentuk tertentu, 
sebagai pengingat.
Itu membantu melihat diriku sejujurnya, 
menjadi cermin untuk berkaca, 
di mana aku bisa tersenyum, tertawa, 
menangis dan menderita, 
merenung dan mengkhayal, 
juga.........
berharap lebih baik pada akhir 
ketika aku tak lagi mampu bergerak.

SILUET


INI KANVASKU
GAMBARLAH SESUKAMU
KALAU MAU SENJA YANG BIRU
ATAU JINGGA LAUTMU
TERSERAH KAMU
KAU TETAP TAKKAN TEMUKANKU
HANYA KANVASKU

VULGAR


PENAMPAKANMU DI HADAPANKU, 
TERANG.
KEBERADAANMU DI HIDUPKU,  
VULGAR 

PERCA


Bagaimana menyusunmu menjadi sebuah prosa
yang dapat kupahami maknanya? 
Bagaimana menatamu sedemikian rupa
agar tampil utuh tak berserakan hingga dapat melukai perjalanan kita?
Kau laksana perca
yang membentang di semesta tak terencana. 

IMAGE


Tak pernah diam. 
Tak pernah bungkam. 
Tak pernah berhenti. 
Tak pernah sepi. 
Kupahami detik demi detik, 
kau menjadi semacam KTP,
terlaminating rapi,
Semacam image, 
terkunci bingkai.

BIJINE MATEMATIKA ORA 100


Seorang anak lelaki menangis menjumpai ibunya, sesaat sesudah pengumuman nilai ujiannya.  
           "Kenapa, Nang...?" tanya sang Ibu lembut. 
Sang anak dengan sesenggukan memeluk ibunya.  
          "Ibu, kenapa nilai matematikaku tidak 100 ?" 
Sang ibu mengusapkan tangan di rambutnya, dan bertanya lagi,  
          "Lha berapa ?"
Sang anak melepaskan pelukannya. Kini dia menatap sang ibu, dengan sangat sedih,
          "98, Bu, salah satu." begitu katanya. 
Kini sang ibu tersenyum, dan berkata, 
          "Alhamdulillah, bagus sekali itu, Nak, kenapa harus 100 ?"
Sang anak menundukan kepalanya, air mata masih mengalir di kedua pipinya.
          "Tapi, hampir semua teman sekelas dapat 100, aku tidak. Mereka banyak mengejekku, mereka bilang, sukurin sombong, gak mau bantu teman, gak solidaritas kelas, begitu Bu !"
Sang ibu kaget. Keningnya berkerut.
          "Jadi waktu ujian mereka saling tolong menolong jawaban, gitu ? Dan kamu tidak ?" tanya sang ibu.
Sang anak mengangguk. Ibunya manggut-manggut. Dia mulai memahami jalan pikiran anaknya.
          "Dengar, Nak, apa kamu selalu ingin dapat nilai tertinggi diantara mereka ? Ranking 1 terus ?" tanya sang ibu kemudian.
Sang anak tak menjawab. Dia hanya menunduk.
          "Apa begitu yang ayah dan ibu selalu  minta darimu ? Coba, Nak, lihat Ibu." 
Sang anak mengangkat kepalanya. Dia menatap mata lembut ibunya. Sang Ibu tersenyum, dan berkata,
          "Menurutmu, nilai 98 yang kau dapat itu benar tidak? Maksud, Ibu, memang benar-benar untuk 1 soal yang salah itu kamu memang tidak bisa mengerjakan ?" tanya sang Ibu memastikan.
Sang anak mengangguk.
          "Dan nilai 100 untuk kebanyakan temanmu itu, menurutmu, sungguhkah mereka pantas menerimanya ?" tanya Ibu lagi. Kali ini sang anak menggeleng. Dan sang Ibu pun tersenyum. 
          "Kalo begitu, apa yang kau sedihkan, Nak ? Kau telah mendapatkan nilai yang benar dan tepat, sedang mereka dapat nilai palsu. Ingatlah ayahmu mengajarkan agar kau menjadi orang yang benar, mendapatkan tempat yang benar, di waktu yang benar, dengan niat, jalan dan tujuan benar, sungguh kau sangat beruntung, Nak..."
Sang anak menghela nafasnya mendengarkan sang ibu berbicara. Air mata itu kembali tergenang di matanya, sang Ibu lalu mendekapnya, mengusap-usap lembut kepalanya. Dengan penuh kasih, Ibu berkata,
           "Sesungguhnya, kau hanya punya nilai 2, Nak. Nilai itu yang ditulis malaikat untuk dilaporkan pada Sang Pencipta. Yang 98 itu tulisan manusia, cuma dikertas, bisa dibakar dengan mudah, tertiup angin, termakan rayap...yang 2 itu menjadi tabunganmu di akhirat. Alloh akan menjaganya dengan baik. Percayalah, Nak."
Sang anak mendekap ibunya erat-erat. Air matanya deras mengalir, membasahi tubuh ibunya...membasahi bumi.

PECAHAN


 Anakku kelas III SD. Untuk ulangan akhir semester ini, besok dijadwalkan Matematika. Dia sedang belajar dengan berlatih soal-soal tes tahun lalu. Salah satu soal berbunyi :
          APABILA 1 M = 100 CM, MAKA 2,5 M ADALAH . . . CM.
Aku agak sewot dengan bentuk soal semacam itu. Aku mempertanyakan terus, apakah materi Pecahan sudah diajarkan ? Dia bilang belum. Tentu saja aku tahu belum, wong jelas di kurikulum SD nya dan di banyak buku materi, PECAHAN diberikan di semester 2. 
          Aku mempertanyakan itu kepada hati dan otakku, bukan cuma lantaran alokasi waktu pembelajarannya, melainkan karena kuanggap...itu soal sungguh kejam. Okelah,....mungkin di SD-SD lain yang berkategori unggulan itu sudah diberikan dan relatif diterima mudah oleh anak-anak, tapi tetap saja menurutku, terlalu berlebihan untuk diterima dalam ranah pemahaman bahasa anak seusia itu.
          Mari kutunjukkan dimana 'keterlaluan'nya :
1. Bentuk 2,5 adalah pecahan dalam bentuk desimal. Anak akan membaca "DUA KOMA LIMA". Sebelum materi PECAHAN diberikan, jelas anak tak mengenal arti PECAHAN. Apalagi untuk mengenal arti dari "DUA KOMA LIMA". 
2. MATEMATIKA adalah Bahasa Khusus yang juga punya arti, yang sangat bergantung juga pada BAHASA UMUM, dalam hal ini bahasa sehari-hari kehidupan kita. Maksudku....Matematika bukanlah tampilan angka-angka tanpa bunyi. Dia memerlukan penampilan yang kontekstual agar mudah dimengerti artinya, sebagai syarat berlakunya fungsi matematika sebagai pelayan ilmu manusia.
3. Anak-anak usia SD masih dalam ranah berpikir kongkrit. Untuk mudah memahami sesuatu, mereka memerlukan penjelasan yang kontekstual bahkan mungkin harus konkrit.
          Nah, untuk soal yang kubahas diatas, okelah, mari kita asumsikan materi itu telah diberikan dan anak-anak bisa menerimanya, tapi.....mari kita permak sebagai berikut, tanpa mengabaikan perkembangan penalaran anak-anak dengan usia SD, 
          JIKA 1 CENTIMETER ADALAH 100 CENTIMETER, MAKA DUA SETENGAH METER ADALAH ....CENTIMETER.
Terlalu panjang kalimatnya ?! Tidak matematis...?! Tidak boleh...?!
Ah,..mengapa ? Mengapa kita tidak kasihan mereka ? Aku tahu persis, bahwa anak-anak kelas III SD itu, masih sangat sulit untuk memahami pengertian suatu kalimat, masih tidak mudah untuk menceritakan kembali isi sebuah bacaan, masih belajar menulis, bahkan terkadang....banyak yang belum lancar membaca.
Mengapa kita begitu kejam, dengan membuat soal yang memuat bentuk bahasa yang sangat jauh diluar penalaran mereka.
Ah,......2,5...anakku pun membacanya DUA KOMA LIMA....tak berarti apa-apa, jadi tak berguna rasanya.
Kalo begini terus, panteslah Matematika adalah pelajaran yang paling sulit dan sulit disuka. Ya karena tidak kontekstual sehingga seolah....tak berhubungan apapun untuk menjalani hidup.
Ah,......2,5....anakku lalu bisa menjawab soal itu setelah kuberitahukan bahwa 2,5 adalah DUA SETENGAH. 
Ah,......maafkan jika aku banyak mengkritik, tetapi...itu juga kritikan untuk diriku sendiri, mungkin selama ini aku juga sering membuat soal-soal keterlaluan, 'wah dan tampak mewah', padahal pada konsep dasar pun mungkin anak belum menguasainya.
Ayo belajar membuat soal yang men'yayangi'.

EL BARCA


Ini true story siang tadi. 
Anakku masih tetap hunting kaos Real Madrid dan Barca. 
Kamis kemarin, di salah satu mall di Tegal, aku membelikannya cangkir Real Madrid,
cuma itu pilihannya karena yang Barca ada cacat pecah dikit.
Siang tadi, kami ke toko B*s* di Pemalang aja, cari kaos (ini maunya sih motif robot).
Eeh....tiba-tiba kami liat ada motif sepakbola. 
Spontan aku tanya ke pelayan.....
"Kaos bola, ya Mba?" 
"Iya...tapi bukan Indonesia, Bu." jawab sang pelayan.
Aku tertawa...ha...haa....
"Wong ora golek timnas Indonesia koq, Mba." kataku.
 Langsung, deh, kami cari-carik...eee....nemu Barca. Bagus banget coraknya. 
Biru merah.
Cuma itu, sama Juve, Inter, Arsenal, dan Liverpool. 
Anakku pun udah pegang.
Dan deal. 
Malam ini...dia nonton dengan mengenakan kaos Barca....waktu kutegur anakku, 
"Mas, pantes aja Indonesia kalah...lha wong Mas nganggone kaos salah, sih." 
Dia jawab dengan lugunya,.....entah dia sengaja atau tidak....
"Wong sing kaose salah pemain Indonesia, Mi...dudu aku.!!"
Haaahhh....my son.

JUDULNYA BELUM NEMU YANG PAS


Dari sms seorang teman: 
Sebait puisi hsl karyamu ffrtq & mb rin, msh igt g? : Sprtinya q khlgn, saat matamu jth k laut, 
ll surut sinarnys, blm lg q tjengah. Engk prg. Jwku enth k mn. 
Ha..haa....sungguh sulit aku mencernanya. Mungkin aku memang gak mahir berbahasa singkat-singkat, ya. Jadi, perlu agak lama dgn dahi berkerut untuk bisa membuatnya jadi kalimat lengkap. 
FFRTQ itu singkatan apa ya?  
Hhmm...sejujurnya, aku mungkin saja melupakan puisi itu, tapi dengan smsnya, aku jadi mengingatnya.
Atau bisa jadi, aku mengenali bahwa aku pernah menulisnya karena gaya kata-katanya yang...memang sepertinya itulah gayaku. 
Hhmm...sejujurnya, tulisanku, entah bentuknya,  tak pernah bagus kukira, tak gampang untuk orang lain menyukainya, kadang tanpa mutu menurutku sendiri.
Aku bukan penulis andal...apalagi hebat...sama sekali bukan. 
Bahkan aku selalu terperangah kagum mendapati tulisan-tulisan orang lain. Gila...kenapa mereka bisa menyentuh bahkan menyentakku dengan tulisan-tulisannya ya? Gampang banget. Sementara aku...sangat bersusah payah membariskan kata.
Apalagi jika harus menulis menuruti teori berbahasa....paragraf awal bagaimana, sinkronisasi antar paragraf, dan aturan-aturan lainnya. Wah...mumet met pokoke.
Asli....pelajaran mengarang mbiyen sekolah aku kelimpungan. 
Tapi.....aku menikmatinya, koq. Menikmati semua yang dapat kuperbuat. Itulah cara agar aku dapat menerima diriku apa adanya.
Dan itulah salah satu langkah membuat hal-hal disekitar kita menjadi KEBAHAGIAAN. Menurutku, gak usah terlalu menggantungkan kebahagiaan dari orang lain. Apa yang kita temui, kapanpun dimanapun, kita olahlah sendiri agar berbentuk KEBAHAGIAAN  bagi kita. Dengan itu...akan datanglah SYUKUR , bukan ngresula, bukan keluh, bukan gugatan, pada Allah SWT.
Mungkin karya tulisku tak bagus, tak bermutu, tak menarik, tapi....alhamdulillah aku dapat menyukainya. Dan jika ada orang lain yang bisa menyukainya...terima kasih.
 ·  · Bagikan · Hapus

BOLA POLITIK


Sebenarnya, aku selalu bertanya, lebih menarik mana...Bola atau Politik ? Apakah sepakbola, sehingga politik ikut ngrangsek ke lapangannya...? Atau politik, sehingga sepakbola pun memanfatkannya ?
Yang jelas....diantara keduanya ada media informasi. Media itulah yang dapat menggunakan keduanya untuk menarik, mengolahnya menjadi pemicu gelombang polemik. 
Aku masih tidak tahu. Makanya, aku tidak bisa menyalahkan mana yang mesti bertanggungjawab jika sepakbola kita belum memberi kepuasan pada rakyat Indonesia. 
Bagaimana kalau begini saja...entah bola atau politik...kita benahi saja apa yang paling dekat dengan kita. Pendidikan moral, eh, sekarang pendidikan karakter bangsa, ding. 
Bukan aku mengatakan moral kita telah rusak, lho. Tapi...ya...memang sepertinya mau begitu sih. 
Sungguh, aku hanya seorang ibu, yang kebetulan punya perhatian ke sepakbola, dengan 3 anak kecil. Kebetulan juga ada banyak anak orang lain, pribadi-pribadi tempat aku membagi sedikit ilmu kehidupan. 
Bola atau politik...menang atau kalah...bukan masalah, yang aku inginkan, menjadi bangsa yang luhur budi pekertinya di semua segi kehidupan. 
Jadi, semoga tak perlu lagi ada kepentingan sendiri yang mengorbankan orang lain, tak ada "wajah-wajah dusta yang tega tertawa sementara korban menjerit di kedua kakinya", dan para "informan" media informasi...anda juga punya peran penting membentuk  kepribadian kami.
(Ternyata terpenuhi sebuah pemikiran seorang teman, bahwa aku akan menulis tentang Bula-bula Pulitik. He..hee...salam)

TEMAN DULU


Merindukan seorang teman,
janganlah disempitkan bentuknya, 
sebagai pertalian hubungan lain jenis semata, 
dengan pasion masing-masing.
Meski aku perempuan dan dia lelaki.
Aku merindukannya sebagai seorang teman,
yang pernah dulu kami berteman.
Aku merindukannya, karena, ketika
mudah ku menemukan banyak teman lainnya,
dia tak kunjung ada. 
Aku juga ingin mengetahui,
bagaimana dia kini, 
karena yang lainnya bisa kutahu,
sedang dia aku tak mampu.
Aku merindukaannya,
sama seperti kepada teman lainnya,
Karena dia pun punya sesuatu, 
yang unik dan menarik,
sama seperti yang kudapat,
dari semua teman lainnya.
Dimana, kau, wahai teman masa duluku?
Mengapa kusebut "teman dulu" ?

Kamis, 30 Desember 2010

PASS AWAY

Sepertinya aku kehilangan
saat matamu jatuh ke laut
lalu surut sinarnya.
Belum lagi aku terjengah
engkau pergi.
Jiwaku entah kemana.

Kamis, 23 Desember 2010

BIRU

Kau suka biru karena warna laut
Menenangkan katamu.
Padahal birumu itu akan menjelma
keruh menenggelamkan
Kau suka biru karena warna langit
meluaskan
Padahal bisa jadi berubah
legam menghantam
Seperti tsunami dan halilintar.
Kau suka aku katamu
karena pakaianku biru
Padahal mungkin saja aku bisa membunuhmu.

Kamis, 16 Desember 2010

GERIMIS2

Seperti gerimis, suatu hari, kau tidak bisa memilih, di tanah mana kau akan meresap.
Seperti gerimis, meski tak datang, tetap saja ada kesejukan yang bisa kutemukan.
Seperti gerimis, meski lirih, tangismu pasti terdengar olehku.
Seperti gerimis menahan deras, matamu pun menyembunyikan cinta,
kepadaku.

Jumat, 10 Desember 2010

GERIMIS

Satu dari puisi tanpa teks,
adalah gerimis.
Seperti seorang teman sedang menceritakan,
sebuah dongengan..
Runtut dan pelan,
tenang menyenangkan.
Laksana kekasih menebar rayuan,
lembut perlahan,
gombal tapi menggariahkan.

Selasa, 23 November 2010

SEMESTA

MENELUSUP KE RUANG-RUANGKU
MENYIMPAN PRASASTIMU
DI MUSEUM SEMESTAKU
SEMBARI MENGUKIR PRASASTI BARU

Rabu, 17 November 2010

CINTA

CINTA,
MENGHIRUP UDARAMU SELALU SEGAR

CINTA DI ATAS SANDAL


Sekian tahun lalu, pernah kita bertemu.
9 orang...atau lebih persisnya kutak tau.
Diantaranya ada kau dan aku.
Sepertinya ada semacam rapat karang taruna waktu itu.
Kau duduk disebelahku.
Mungkin karena malam sehingga dingin,
tiba-tiba satu kakimu mengambil sandalku.
Dan dengan enaknya, kau topangkan kedua kakimu,
di atasnya.
Aku tak hanya heran saat itu,
namun.....seperti tengah berdiri di atas gelombang
Aku merasa oleng dan hendak terjatuh.
Seperti sesuatu dingin melintas membuat berdesir darahku,
seolah ada yang tertangkap dan kudekap.
Kau di sebelahkan,tapi  bahumu tak tersentuhku
Kutau siapa kamu, tapi ingin sekali kumenoleh untuk memastikan
siapakah gerangan mencuri sandalku ?
Tapi hatiku diam tenang, padahal badai tornado tengah berkecamuk melandanya
Sedang benakku terus sibuk bekerja menjawab curiga
Mengapa dan bagaimana...aku bertanya-tanya.
Lalu...dingin lantai merambah telapakku,
membuat mata bergerak melirik sebelahnya, 
kanan....kiri....depan....
terus berpaling ke belakang.
Hahh....!!
Sekarang aku tahu apa yang menggetarkan hatiku...!!!
Hahh...!!
Cuma aku yang tak melepas sandal diruangan ituuu...?!!

Jumat, 12 November 2010

SAJAK MATEMATIKA

Menyelesaikan persoalan matematika,
tak ubahnya menata sajak.
Semua menumbuhkan gairah,
yang tiada tara.

PAGI

Setiap detik waktu adalah berharga. Aku coba untuk menciptakan segalanya berharga. Karena aku harus selalu berbahagia.

Selasa, 26 Oktober 2010

THAT'S ENOUGH

Dari ribuan salahmu,
ada satu kebenaranmu yang kupercaya,
dari jutaan kejahatanmu,
ada satu baikmu yang kuterima.
Kau mencintaiku, itu saja.
Cukup untuk selamanya.

Sabtu, 23 Oktober 2010

SILUET

kaulah yang tersembunyi dalam air mataku
dan menjadi tornado
hingga hatiku menjadi kacau balau

Rabu, 20 Oktober 2010

WATER

Engkau seperti air bagiku
Baru sedikit surut pun aku berasa haus
Baru pasang sedikit aku tenggelam.

MATHEMATICS OF LOVE

Jika cinta adalah matematika,
masalah akan dapat mudah kau selesaikan
menggunakan persamaan matematika sederhana.
Pastilah kau dulu tak baik dalam matematika di sekolah
sehingga kini kau selalu bermasalah dengan cinta.

MALU KITA

      Sungguh mujarab !   Menjadi asyik maksiat   Membuat sebab khianat   Betapa dahsyat !   Meruntuhkan iman  Menghapus peradaban.