Rabu, 23 Maret 2011

POINT OF FIRE

Prosa ini agak berbahaya, sisi liar dan kebebasan. Tapi baru sedikit. Aku masih tak berani terlalu total.

POINT OF FIRE (Rainy Desire)
Suatu ketika kau hadir. Kau berkeliaran. Wajahmu jenuh. Wajah yang telah meninggalkan banyak hati terluka, selama umurmu. Mata...yang seharusnya tertawa....terlihat sepi yang luar biasa.


Begitu kau memandang drimu, demikian juga semua orang. Aku tidak. Aku dapat melihat, tatapan memuja saat kau melintas ruangan, tatapan mengutuk, juga merajuk, setiap wanita yang pernah kau tinggalkan, tatapan kejam para pria, yang sulit mendapat kesempatan.


Tapi kau begitu lelah. Tawamu memudar, bahkan hanya untuk mengangkat sudut bibirmu 1 cm saja, terasa perjuangan berat.


Tapi suatu hari kau menatapku. Dan. Kau tiba-tiba berubah. Kembali hidup. Warna matamu berbeda, menyala, seperti serigala. Lalu aku adalah aku, yang dapat memberimu jalan, sampai tempat kau akan tertawa bebas atau hanya sesekali tersenyum. Meski bodoh.


Kau seperti tidak peduli, setiap berjalan disisiku. Dengan ribuan tatapan kecewa wanita-wanita. Sedang aku sibuk menahan.  Gesekan bahumu, dengan hanya 2 cm jaraknya dari bahuku, cukup membuat jantungku jungkir balik.


Kau mengajariku untuk bisa dicintai. Untuk layak diingini. Setelah suatu ketika, kau kehilangan semua kenikmatan. Otot-ototmu melemah, seakan telah bercinta selama berabad-abad. Maka, kini, sepertinya aku yang berpengalaman. Kau menemukanku sebagai pemandumu. 


Mengertilah kau kemudian, bahwa aku menjadi takdirmu. Meski tak tampak, aku tahu kau merasakan itu. Jika tidak, mengapa pula setiap aku dihadapanmu, matamu menggelap, rahangmu mengeras, dan bongkahan besar lewat dilehermu, kau nampak kesulitan menelannya.


Kau bilang, kau tak lagi punya kata-kata. Itu karena kau hanya ingin berbicara denganku, padaku saja.


Begitulah aku menggambarkanmu.


"Lalu bagaimana kau bisa menggambarkanku?" tanyaku lirih.

"Aha....aku akan menggambarkanmu, tapi aku perlu sedikit bantuanmu, karena aku tidak begitu sering membaca novel-novel, tak begitu paham sastra. Jadi, akan kugambarkan kau lewat jariku. Kau akan paham dengan mengikutinya."  begitu jawabmu.


"Inilah kau," Dan mulailah jarimu, didahiku. Seperti sentuhan manis bayi. Lalu turun, membelai pipiku, kenyal dan lembut, dan terus meluncur, ke bibir, dan menerobos masuk. Aku dapat merasakan keras ibu jarimu bersamaan pekanya lidahku mengecap suhu tubuhmu. Keluar lagi, bergerak turun memberi tanda api yang membara dileherku.


"Dan beginilah kau," lanjutmu dalam desah yang menggeram. Seluruh jarimu terbentang didadaku. Menghitung, berapa kali jantungku berdetak. Aku bisa mendengarnya melalui hamparan jarimu.

Kemudian kebawah, hingga menemukan satu titik, lalu satu titik lagi disebelahnya.


"Siapa dan bagaimana kau, lihatlah," desahmu.


Aku mengikuti kemana arah jemarimu. Memutari dua titik merah jambuku, mempersembahkan kepada bibir terbukamu. Matamu terarah kaku, berubah warna menjadi gelap dan liar. Aku mengerti, aku seperti sebuah tanah baru, yang liar, hitam bagai hutan, dimana kau tidak akan bisa keluar, tidak pernah mau keluar.


"Ohh..." aku terkesima dengan yang baru kutahu, bahwa aku adalah tanah baru bagimu. Aku percaya padamu, bahwa aku adalah sepetak tanah, tempatmu berdiri menjulang. Hanya kau saja. Karena udara yang kuhembuskan hanya akan menyesakkan setiap orang, membuat mereka sulit bernafas, setiap ingin mendekati lekuk-lekukku.


Kau menatap memuja, menghempaskan dirimu, membenamkan semua pikiran yang berbahaya, pikiran yang membawa tangis di puncak kenikmatan.


Dan aku membeku, dicekam ketakutan, bahwa aku akan terus kehausan.    


Kau sudah teramat lelah saat menemukanku. Kau menjadi tak berdaya, bahkan untuk berbasa-basi menyapaku. Kau mengeluhkan seluruh dunia yang telah kau habiskan kenikmatannya di masa lalu.


Tapi aku. Akulah yang akan membuatmu merasa punya berkah kembali. Aku menjadi anugerah yang tumpah ruah di matamu, bibirmu, tanganmu, bahumu, dadamu, hingga terus membuncah meresapi tanah.....

    • Anggaraini Maulina K gaya tulisan begini jd ingat salah satu cerpenis di majalah ANITA jaman aku SMP dulu....tp sayang aku lupa nama sang cerpenisnya
      17 jam yang lalu ·
    • Ida Cholisa bisane no title? perasaan tau nulis judule no title juga? bingung nggawe judul? aja bingung2...
      17 jam yang lalu ·
    • W Wt Hidayati ‎@anggaraini: oya...bukannya kl sprt itu tdk lolos sensor?
      16 jam yang lalu ·
    • W Wt Hidayati ‎@ida: bnyk yg kutulis 'no title'. Aku bodoh dibidang 'judul'. Itu cara merefleksikan complicatednya benakku. He..he.,
      16 jam yang lalu ·
    • Elsi Joe Wuuuiiihhh...manteb nih melibatkan desire ;)
      Judulnya "Kamu" gitu aja Wit qiqiqi...

      Suka bacanya, nggak terlalu vulgar penggambarannya, tp terbawa.. sip siiip...
      15 jam yang lalu ·
    • Muji Burokhman wuihhhh.....masuk kedalam so deep tapi smooth banget ya.....mpe meresap ke jiwa....jadi horney juga hahaha...payah ahhh nggugah macan turu
      13 jam yang lalu ·
    • Hastati Hendriani He he.. Tak kiro kalem jebule dalem ha ha.. Good job, i like it.
      13 jam yang lalu ·
    • Muji Burokhman wiwit tuh bukan kalem....cuma nunggu timing yg ps aja buat meledak
      12 jam yang lalu ·
    • W Wt Hidayati Elsi JoeJudule ELSIRE aja. He..hee..thank you.
      6 jam yang lalu ·
    • W Wt Hidayati Muji BurokhmanEmang aku kompor gas po...?Hush...aku sensor lho siapa yang bisa baca. Gak sembarang orang. Paling tidak yang kupercaya tidak akan meng'hakimi' ku dengan pikiran dangkal.
      6 jam yang lalu ·
    • W Wt Hidayati Hastati HendrianiKamu suka, An? Dibagian mananya?
      6 jam yang lalu ·
    • W Wt Hidayati Desire ada jauh terdalam...tak terjangkau dengan kevulgaran.
      6 jam yang lalu ·
  • Tekan Shift+Enter untuk memulai baris baru.

THE LESSON OF LOVE

Aku cuma ingin bermain-main dengan cinta, berkawan kata-kata. Mencoba mengeksplor fakta bahwa aku berkecimpung dengan pelajaran-pelajaran sekolah. Apa salahnya berdekatan denga cinta, dan gairah.
Beginilah:

Aku adalah seluruh sains
mistis dan magis.

Aku adalah kalkulus
tak pernah mulus.

Kau mendekat,
menghisap seluruh aromaku,
sebagai udara untuk nafasmu.
Udara yang menjadi gas beracun
untuk semua selainmu

Kau terpukau, 
akan garis-garis desainku,
Yang meliuk-liuk,
melebar dan menyempit,
membuka dan menutup,
membulat dan mengerucut,
Lurus putus-putus,...

melengkung cekung dan cembung,

Aku bagai lembing, 
terlempar menancap,
Atau cakram yang terbang,
memutar

Kau melompatiku tinggi,
meloncat jauh,

Sungguh aku sangat mengasyikanmu.

Jumat, 11 Maret 2011

MALU KITA

      Sungguh mujarab !   Menjadi asyik maksiat   Membuat sebab khianat   Betapa dahsyat !   Meruntuhkan iman  Menghapus peradaban.