Senin, 25 April 2011

BOL POL

BOLA POLITIK

oleh W Wt Hidayati pada 30 Desember 2010 jam 14:42
Sebenarnya, aku selalu bertanya, lebih menarik mana...Bola atau Politik ? Apakah sepakbola, sehingga politik ikut ngrangsek ke lapangannya...? Atau politik, sehingga sepakbola pun memanfatkannya ?
Yang jelas....diantara keduanya ada media informasi. Media itulah yang dapat menggunakan keduanya untuk menarik, mengolahnya menjadi pemicu gelombang polemik.
Aku masih tidak tahu. Makanya, aku tidak bisa menyalahkan mana yang mesti bertanggungjawab jika sepakbola kita belum memberi kepuasan pada rakyat Indonesia.
Bagaimana kalau begini saja...entah bola atau politik...kita benahi saja apa yang paling dekat dengan kita. Pendidikan moral, eh, sekarang pendidikan karakter bangsa, ding.
Bukan aku mengatakan moral kita telah rusak, lho. Tapi...ya...memang sepertinya mau begitu sih.
Sungguh, aku hanya seorang ibu, yang kebetulan punya perhatian ke sepakbola, dengan 3 anak kecil. Kebetulan juga ada banyak anak orang lain, pribadi-pribadi tempat aku membagi sedikit ilmu kehidupan.
Bola atau politik...menang atau kalah...bukan masalah, yang aku inginkan, menjadi bangsa yang luhur budi pekertinya di semua segi kehidupan.
Jadi, semoga tak perlu lagi ada kepentingan sendiri yang mengorbankan orang lain, tak ada "wajah-wajah dusta yang tega tertawa sementara korban menjerit di kedua kakinya", dan para "informan" media informasi...anda juga punya peran penting membentuk  kepribadian kami.
(Ternyata terpenuhi sebuah pemikiran seorang teman, bahwa aku akan menulis tentang Bula-bula Pulitik. He..hee...salam)
· · Bagikan · Hapus
  • Insan Adjie menyukai ini.
    • Fatimah Fadli Memang kerjanya media, nggatuk2no suatu kejadian. Lha kalo yg nonton bola kmrin adalah para guru, lain lgi ceritanya, jadi "bula bula buguru".
      30 Desember 2010 jam 14:51 melalui Facebook Seluler ·
    • W Wt Hidayati Hahahahaa....Fetty bisa aja. Tapi memang teman-teman guru dho nonton, koq.
      30 Desember 2010 jam 14:53 ·
    • Insan Adjie Kalo masalah politik emang jauh2 dari hidupku....tapi setuju banget tuh kalo kita benahi apa yang perlu dimulai dari yang terdekat dan utamanya dari diri kita masing2 dulu....kasih teladan dan contoh yang baik.....nice note jeng.....
      30 Desember 2010 jam 15:17 ·
    • Priyo Utomo Bu Wiwit, Panj. kayaknya lebih patut menjadi seorang wartawan daripada jadi guru. Ulasan anda sangat baik. Bisa menghubungkan antara sepak bola, nasionalisme dan pendidikan karakter bangsa. Salut buat Panjenengan bu.
      30 Desember 2010 jam 15:30 ·
    • Jhon N Sarjono Kau membicarakan keterkaitan bola dan poitik yang menarik hati media, ya..
      He.he..
      30 Desember 2010 jam 15:55 melalui Facebook Seluler ·
    • W Wt Hidayati ‎@Jhon : media yang bisa membelokkan perhatian kita, bikin bingung fokusnya apa..sepakbola koq tekane prngrf juga.
      30 Desember 2010 jam 18:37 ·
    • W Wt Hidayati ‎@Pak Priyo : wartawan mobilitasnya tinggi, dia gak cocok kalo banyak diam di rumah...jadi, gak bisa, Pak. Aku orang rumahan....ha...haa...
      @Insan: Thank you...'n setuju, Bu.
      30 Desember 2010 jam 18:41 ·
    • Jhon N Sarjono Wit..maksud gw paragraf pertama lbh cocok politisasi sepakbola atau sebaliknya..
      30 Desember 2010 jam 18:53 melalui Facebook Seluler ·
    • W Wt Hidayati ‎@@Jhon: iya..memang...terus kucampur aduk lainnya, semrawut ya Pak?
      30 Desember 2010 jam 19:02 ·
    • Sasmito Ruba'i Bagaimana pula dgn "Bola-bola Hati" setiap kita, di relung setiap anak bangsa?
      30 Desember 2010 jam 19:26 melalui Facebook Seluler ·
    • W Wt Hidayati Sas...senenge nggulirke bola-bola, sih.
      30 Desember 2010 jam 19:31 ·
    • Yogi Hartono
      Wit, ono loro aliran nang media, universalitas serta konstruktifitas. Yang pertama pendekatannya media itu bebas nilai, ukurannya kuantitatif, penekanan pada pemberitaan sebuah realita.
      2. Dalam konstruktifis, media harus punya nilai. Pendek...atannya kualitas. Fungsi media tak sekedar menampilkan realitas tapi juga mengkonstruksi realitas. So penekanan lebih ke subyeknya bukan obyeknya.

      Coba wiwit sekarang kamu petakan korelasi bola, politik dan media.
      Lihat Selengkapnya
      30 Desember 2010 jam 20:24 melalui Facebook Seluler ·
    • W Wt Hidayati
      ‎@Yogi Hartono : khusus untuk moment AFF kemarin, koq Yogi. Memang agak kubuat kabur catatan itu...biar gak vulgar...cuma karena sedikit sewot aja. Ketika ada fenomena sedikit cerah pada sepakbola kita, lalu masuk kepentingan politik sebuah... pihak/lebih mungkin, ke dalamnya. Lalu, maaf,....kupikir bahwa banyak hal dalam negara kita ini yang menjadi begitu rame, karena media lah yang mampu meramekannya. Aku menyatukannya jadi satu...lalu aku bertanya, mengapa untuk sepakbola kita, tidak ada fokus perhatian ? Mengapa menjadi ke arah lain-lain, sampe ke......ini yang kututupi....simbol-simbol pornografi ? Di sebuah pembicaraan yang kualami...ketika kita sedang membahas serius sepakbola kita, tiba-tiba pembicaraan itu berubah arah tentang....kau tahulah, Azhari, Jupe, maaf....!!!
      Materi tentang korelasinya sebenarnya bukanlah ynag bisa kubahas, karena justru aku mempertanyakan...apa yang terjadi pada negara kita ini ?
      Dan ternyata....yang kutulis pada akhirnya tentang diriku dan keetidakpahamanku mengenai semua itu.
      Dan terima kasih detail penjabaranmu tentang dunia media itu. Sedikit-sedikit 'kan aku jadi ngerti teorinya. Memang itu yang ingin kuperoleh, tahulah...mengapa aku tag kamu, sebagai pemeran penting dunia media kita.
      Gak nesu, tho?
      Lihat Selengkapnya
      30 Desember 2010 jam 23:22 ·
    • Yogi Hartono
      Wiwit aku ra nesu he he he aku paham yen media juga punya kepentingan. Siapa pemodal dibelakang media juga bisa mempengaruhi konten pemberitaan. Contohe mungkin gak tv one, antv memberitakan kasus lapindo? Rcti membahas kasus sisminbakum, d...etik com gak kritis ttg krakatau steel, atau indosiar ttg kaburnya phiong? He he

      Tentang bola beberapa media terjebak dam jurnalisme lebay, berlebihan, mendompleng trending agenda. Jurinya kan pemirsa via remot control, klik
      Lihat Selengkapnya
      31 Desember 2010 jam 7:08 melalui Facebook Seluler ·
    • W Wt Hidayati Iya, bener, remote kontrol pegang peranan paling penting. Yen ora manut Ummi, ta' banting kyeh. Ihh...galak nemen Ummi, begitu mungkin pikir anakku.
      31 Desember 2010 jam 8:01 ·

DUA PERTIGA PURNAMA

DUA PERTIGA PURNAMA

oleh W Wt Hidayati pada 17 Januari 2011 jam 1:56
Malam....
dengan sepi dan dingin....
kopi pun menemani
panasnya sesaat
hangatnya sekejap.
Sunyi....
tapi tidak benakku
tidak rasaku.
Kamu....
Satu saja sosok seperti dirimu
menyempitkan ruang luangku
meluaskan titik pandangku.
Kamu....
tak aku mengerti dimana
tapi ada di aneka nuansa.
Malam....
dengan bulan dua pertiga
menjelang purnama.
Sunyi....
tidak nadiku
tidak batinku
Kamu....
apa yang bisa kupahami ?
Aku hanya rindu.....tentangmu.
Hanya.
· · Bagikan · Hapus

    • Elsi Joe Wuft! Malam...aku selalu menyukai hening dan perasaan menyatu.... Tulisanmu sangat mewakili perasaanku, Wit... Like it! :)
      17 Januari jam 5:22 melalui Facebook Seluler ·
    • Hastati Hendriani wuuuiiihhh cerita tentang rindu di mlm purnama yang tak sempurna, rasanya rindunya ikut kurang sempurna ya he he...
      17 Januari jam 11:32 ·
    • W Wt Hidayati ‎@Ani: Rindu yang tak sempurna itulah, An, yang terus mendendam.
      17 Januari jam 13:52 ·
    • W Wt Hidayati ‎@Elsi: karena ada kopi...setiap ada kopi...terlintas kamu dibenakku.
      17 Januari jam 13:54 ·

SERI PETUALANGAN

SERI PETUALANGAN: Penjual Nasi Goreng yang Sholeh

oleh W Wt Hidayati pada 15 Januari 2011 jam 9:38
Suatu sore yang indah, aku harus pergi ke kota, untuk memenuhi keinginan anak lelakiku yang minta nasi goreng. Kebetulan lauk dan sayur pun telah habis tak bersisa, sehingga untuk makan sore aku harus memasak lagi. Aku pikir, beli sajalah sayur sop, capcay, dan gorengan. Sederhana dan praktis.
Maka berangkatlah aku menuju ke sebuah jalan yng menuju arah bioskop di kota Pemalang. Di situ ada penjual nasi goreng yang sekaligus menjual sayur sop. Sebetulnya , banyak sekali penjual-penjual nasi goreng, mie goreng, dan mie rebus, di sepanjang jalan kota. Rasanya juga relatif tak berbeda. Tak ada yang terasa enak sekali atau istimewa, kecuali kalau berdasarkan selera masing-masing orang.
Sebelum membeli nasi goreng, aku terlebih dahulu membeli keperluan lain, termasuk mendoan. Ketika sampai di nasi gorengan itu, hari sudah menjelang maghrib. Di sana si penjual yang terdiri dari 3 orang pemuda, sedang memasak untuk melayani dua pembeli. Jadi, aku harus antri menunggu giliran dilayani. Salah seorang pemuda kemudian menanyakan dulu pesananku.
            ”Ibu pesen nopo?” tanyanya dengan sangat santun.
            ”Nasi goreng, nggih, setunggal, mboten pedes blas, sop satu, capcay satu, mboten pedes kabeh, nggih Mas?” aku menjawab dengan bahasa campur baur sesukaku.
            ”Nggih, Bu.”dia mengiyakan sambil tersenyum.
Ketiga pemuda itu tampak sangat biasa. Tidak dapat dikategorikan ganteng secara umum, tetapi juga tidak jelek. Mereka dipandang enak, dengan penampilannya yang rapi dan bersih, dengan sikapnya yang sopan dan senyumnya yang mengembang.
Sambil menunggu, aku meminta segelas teh hangat, sementara keduanya sibuk memasak. Pemuda yang satunya, kulitnya putih, tampan, tampaknya dialah pemilik jualan mungkin, karena aku lihat dialah yang menerima pembayaran dari pembeli setelah mereka menerima pesanannya.
Nah, setelah beberapa saat, pemuda tadipun menghampiriku, lalu berkata.
            ”Nyuwun sewu, Bu, kami mau ke masjid dulu. Ibu mau menunggu boten?” tanyanya, sama sepertiku, bahasanyapun gado-gado.
Aku agak kaget. Baru kusadari, waktu maghrib telah sedari tadi. Aku tak segera menjawab, malah dengan sedikit blo’on aku menatapnya. Dia pun mengulang lagi,
            ”Ke masjid dulu, Bu, pripun?”
            ”Oo...hmm...nggih-nggih, kulo nunggu mpun.”jawabku.
Ketiganya lalu pergi, meninggalkan gerobak, aku, dengan sejuta pikiran berkecamuk di benakku.
            Aku memandang ketiga penuda tadi berjalan menjauh, terpesona.
Ternyata sudah maghrib, dan aku masih diluar rumah, mencari makanan untuk memenuhi rasa lapar. Sementara mereka dengan enaknya meninggalkanku, tak peduli dengan urusan rejeki. Tak kuatir jika aku atau mungkin orang lain, bisa saja mencuri barang dagangan mereka. Tak cemas bisa saja aku kecewa, lalu tak membeli lagi dagangan mereka. Tak peduli, tidak takut apapun urusan dunia. Mereka lebih ghirah menjemput kenikmatan akhirat. Mereka takut ketinggalan waktu sholat, mereka malu jika harus berlama-lama menunda sholat.
            Dan aku setia menunggu, dengan rasa malu. Malu pada diriku sendiri, malu pada anak-anak di rumah, malu dengan nasihatku sendiri pada mereka. Betapa selama ini aku selalu meminta mereka untuk tepat sholat. Malu pada suamiku yang terus menerus mengingatkanku, berusahalah untuk maghrib sudah berada dalam rumah, Mi, dampingi anak-anak sholat dan muroja’ah. Malu pada Tuhanku. Bagaimanapun, aku tak bisa menggunakan dalih, bahwa aku pergi toh untuk menyediakan makan bagi anak-anakku, bahwa aku adalah ibu yang baik, dsb dsb. Ongkos alias omong kosong. Kenyataan, aku sudah mengabaikan hal paling penting untuk kehidupan akhiratku.
            Dan aku tetap menunggu, sambil belajar, dari tiga orang penjual makanan pinggir jalan. Bahwa aku tak lebih tinggi derajatnya dari mereka. Pendidikanku duniaku mungkin jauh lebih tinggi dari mereka, tetapi pendidikan akhiratku ternyata nol.
Aku harus belajar mengatur waktu lebih baik lagi.
(SUNGGUH AKU TAK DAPAT KATA PAS UNTUK JUDUL KISAHKU ITU)
· · Bagikan · Hapus
  • Reni Febriani dan Insan Adjie menyukai ini.
    • Fatimah Fadli Tanpa judul pun aku bsa mencerna catatanmu. Memang, kadang kta merasa dibandingkan orla, tapi kenyataannya kta bukan apa2. Aku mau introspeksi dulu ah..
      15 Januari jam 11:50 melalui Facebook Seluler ·
    • Sahru Ramadhan Alhmdulilah..
      Kita harus lebih sering&lebih bnyak brsukur lagi...
      ..skitar kita msih bnyak,utk djadikan i'tibar/pelajaran.
      15 Januari jam 13:45 melalui Facebook Seluler ·
    • Hastati Hendriani Jadi ikut malu aku setelah baca cttnmu ini, soalnya gw jg sering begitu.
      15 Januari jam 15:31 melalui Facebook Seluler ·
    • W Wt Hidayati ‎@Fetty: tapi, tolong, dong kasih saran buat judulnya.
      @Sahru, Ani : meski malu, aku makin sering beli di situ, tapi atur waktu biar gak ditinggal lagi. he..hee...
      15 Januari jam 15:45 ·
    • Anggaraini Maulina K Aku sih ga mrs berdosa2 amat krn klo aku ngalami bgt, swamiku msh ridho krn keluar rmh demi kep kel dan akupun sll diantar swami...so buatku...No problem at all.........
      15 Januari jam 18:00 ·
    • Yogi Hartono Wiwit, critemu runtut, reflektif dan kompletatif. Sip.
      15 Januari jam 21:36 melalui Facebook Seluler ·
    • Elsi Joe Judulnya "Tukang Nasi Goreng yang Shaleh" :)
      16 Januari jam 16:09 ·
    • Insan Adjie Refleksi.......I like Ur notes...
      16 Januari jam 19:08 ·
    • Yogi Hartono Judulnya "petualangan wiwit; eps; wiwit dan 3 penjual nasi goreng"
      16 Januari jam 19:16 melalui Facebook Seluler ·
    • W Wt Hidayati ‎@Yogi: Yogi, dipaparkanlah...maksude reflektif dan kompletatif itu kenapa? Makasih, ya.
      17 Januari jam 1:18 ·
    • W Wt Hidayati ‎@Elsi: judul yang sederhana, jelas, gak pake mikir lama. Thank you, L.
      @Yogi: iya apa ya? Biar kayak lima sekawandan sejenisnya, cerita petualangan memang favoritku.
      17 Januari jam 1:21 ·
    • W Wt Hidayati ‎@Insan Adjie: matur nuwun, Mba.
      17 Januari jam 1:22 ·

BETH

VINA PANDUWINATA

oleh W Wt Hidayati pada 18 Januari 2011 jam 22:37
Seperti kisah kenanganku tentang ANGETNYA SEPATU saat kelas III B dulu, aku juga mempunyai kenangan seorang teman yang lucu diluar kesadarannya di kelas Fisika 1.
Ada seorang teman sekelas di Fisika 1 dulu. Pintar dan lucu, tapi hampir semua teman di kelasku ini memang pintar-pintar. Laki-laki. Kulitnya coklat, rambutnya hitam ikal, bola matanya kecil, tatapannya tajam, banyak senyum dan tertawa. Tetapi saat diam dan serius, bibirnya mengatup kecil.
Suatu hari, dalam keseriusan sesuatu, entah aku tidak tahu, lamat-lamat kudengar dia bersenandung,
      "Sejak ku bertemu, ku telah jatuh hati padanya.
       Di dalam hati, telah menjelma cinta
       Dan bawalah daku selalu dalam mimpimu, di langkahmu, serta hidupmu
       Genggamlah daku kini juga nanti
       Harapan di hatiku, bawalah diriku selamanyaaaaaaaaaaaaaa.......
       Dalam mimpimu, dilangkahmu serta hidupmu
       Genggamlah daku kini juga nanti
       Harapan dihatiku, bawalah diriku selamanyaaaaaa......
       Dalam mimpimu dilangkahmu serta hidupmu
       Genggamlah daku kini....."
Dan terus berulang-ulang dia menyenandungkan bagian itu.
Aku geli mendengarnya. Tidak sadar dia kalau kelakuannya tanpa sengaja lucu. Itupun bagi siapa yang menemukan kejadian itu. Apakah hanya aku yang tahu, atau ada teman lain. Entahlah.
· · Bagikan · Hapus


    • Ida Cholisa sapa tuh Wit, ikal? Janto? hikikikikik.....
      18 Januari jam 22:40 ·

    • Hastati Hendriani Wah jd penasaran nih inboxin namanya wit he he..
      18 Januari jam 22:41 melalui Facebook Seluler ·

    • W Wt Hidayati Hii..hiii... Janto bukan fisika 1, dia fisika 2.
      18 Januari jam 22:41 ·

    • Ida Cholisa sapa, ya? nyong kayane rada mudheng...., tapi mbuh dink...
      18 Januari jam 22:42 ·

    • W Wt Hidayati ‎@Ani: wah....jangan dulu, ah, ben jadi misteri. Asyik.
      18 Januari jam 22:43 ·

    • Hastati Hendriani Walah jo ngono to wit mbe konco lho
      18 Januari jam 22:45 melalui Facebook Seluler ·

    • W Wt Hidayati Tunggu dululah...siapa tau ada teman yang baca note ini dan kebetulan dia ikut mengalaminya, pasti dia akan bilang. Karena ini true story.
      18 Januari jam 22:49 ·

    • Hastati Hendriani Jiaah padahal anak fis cuma bbrp aja yg gw kenal, yg gw hapal cuma didik doang wong dia pacaran mbek karibku laine eweuh he he.. tapi mirip si manol iya bukan?
      18 Januari jam 22:53 melalui Facebook Seluler ·

    • W Wt Hidayati Kayaknya enggak.
      18 Januari jam 23:03 ·

RINDU

RINDU

oleh W Wt Hidayati pada 18 Februari 2011 jam 14:36
Masih tentang rindu. Aku selalu saja dibelit rindu, dan aku dapat menikmati rindu dengan baik. Aku suka merindu dengan segala pernak-perniknya. Kadang dia membawa suka, duka, sakit, semangat,tawa, tangis, ah..pokoknya banyak macam-macam deh. Kadang dia membuatku tersenyum, meski tipissssss...........sekali, kadang membuatku marah meradang, sesekali bahkan membuatku gemas ingin meremas-remas.
Aku rindu kini. Pada nama-nama lama masa lalu...di kelas 1 A SMP dulu. Merindukan coklat sawo matang, hitam, kuning, atau pucat, kulit mereka. Merindukan beraneka aroma tubuh mereka, dengan harum bedak aneka rupa, atau aroma menyengat keringat selepas olah raga, ha...haa....dan sebuah aroma bayi dari seorang teman, yang aku selalu heran, kenapa dia bisa beraroma begitu. Hmmm.....
Masing tentang 1 A, aku merindukan tenangnya kami belajar menerima materi dari bapak dan ibu guru. Saking tenangnya, hingga guru selalu heran, kenapa kami tak pernah bertanya. Apakah memang kami sudah pintar-pintar, atau bengong karena tidak paham apapun. Hingga ada seorang guru yang sangat gemas, karena menurut Beliau, kami sangat sulit diajak berkomunikasi, sangat pasif, dan membingungkan.
Aku juga rindu, pelajaraan Seni Musik, yang selalu ulangan tiap pertemuan, 1 kali seminggu, dan nilai kami salalu 9 dan 10 semua. Ha..haa....
Aku rindu duduk di dekat jendela, memandang ke halaman depan sekolah, menyaksikan rindangnya pohon anggrung, melihat masuknya teman-teman jalan menuntun sepedanya, karena sepeda hanya boleh dinaiki sampai gerbang sekolah saja.
Dan...aku rindu jajanan luar ditembok depan sekolah, kami biasanya membeli dari dalam karena dilarang keluar, ada manisan mangga atau kedondong, dengan "uyah" nya, ada siomay, hmm.....
Aku sedang tergugu kini, mengingat guruku....yang kalau menyampaikan pelajarannya, selalu dengan skema di papan tulis. Bisa dengan garis-garis panah, atau bundaran-bundaran, atau kotak-kotak, garis bawah-garis bawah, yang....selalu diulang-ulang, hingga teballllllll...........banget. Dan kami menjadi sibuk sekali, karena kami....akan menghitungnya sampai pelajaran usai. Lalu, setelah usai kami akan saling mencocokan hasil hitungan kami. Ha...haa....ha.....ha...ha....haaaaaaa.......oh, aku rindu, semua itu.
· · Bagikan · Hapus

    • Novi Fitriani akupun rindu...Mbak Wiwit kok msh inget detil2nya ya..
      18 Februari jam 14:39 ·
    • W Wt Hidayati Lucu sih, Mba Novi.
      18 Februari jam 14:45 ·
    • Fatimah Fadli Aku juga rindu, Mbak. Rindu wkt dulu kta tukar2 kado, aku dpt dr Caroline buku diary. Eh.. Tukar2 kado lgi, aku dpt dr Caroline lgi, isinya pisang ambon..
      18 Februari jam 15:01 ·
    • Yeti Partiningrum hahaha Fatimeh, pasti yg kedua udah seneng ya, ternyata pisang ambon. idenya siapa ya dulu tuker2an kado? hhhmmm kreatif juga yaa..
      18 Februari jam 15:06 ·
    • Novi Fitriani tuker2an kado? wah, ingatanku kok parah ya, gak inget sama sekali..
      18 Februari jam 15:07 ·
    • Yeti Partiningrum lho iya, Nov... kayanya kalo pas ada anak cewek yg ultah deh... terus kita sepakat besoknya hrs bawa kado, trus tuker2an deh...
      18 Februari jam 15:09 ·
    • Novi Fitriani hmm..msh blm inget nih Yet..wah payah ya aku ini..
      18 Februari jam 15:11 ·
    • Yeti Partiningrum yang diinget sapa, Nov? di 1A? hayooo???
      18 Februari jam 15:12 ·
    • Novi Fitriani hahaha..banyak Yet..Yeti, Wiwit, Fatimah..
      18 Februari jam 15:13 ·
    • Reni Febriani hihihi...sama mbak Novi...aku yo lali kabeh...tapi nek tukeran kado pas ultah rodo2 inget...mung aku yo lali, aku pernah dapet kado apa ya? kebanyakan dosa kali yo...kok ingatanku jadi parah gini....tapi nek Mentes, aku ga bakalan lupa...
      18 Februari jam 15:19 ·
    • Yogi Hartono Wiwit, 1A aku njagong karo wisnu, dolane karo kristanto dobol, adi nugroho, heru setyoko, nelson, ha ha wiwit aku mbiyen naksir cewe 1A sing nganggo kacamata lho hi hi kasih tak sampai
      18 Februari jam 15:21 ·
    • Fatimah Fadli Aku ingat dulu pas tukaran kado, kadonya Novi paling kecil (kotak korek api yg berisi uang seratus rupiah). Trs yg dpt (aku lupa) cengar cengir aja. (Novi, piss..)
      18 Februari jam 15:24 ·
    • Yeti Partiningrum ‎@Reni, hehehe... Mentes itu akyuu...hihihi..
      @Fatimah, inget beneeeeeerrr kalo tuker kado...hehehe
      18 Februari jam 15:27 ·
    • Fatimah Fadli Cewek kaca mata?? Yani?? Pantesan, dulu Yogi kalo diajar mandang Yani melulu...
      18 Februari jam 15:28 ·
    • Fatimah Fadli Yet, paling kusuka drimu klo pas kamu buka kacamatamu. Cantik sekali. Trus, kamu suka njejerkan tanganmu dgn tanganku, critanya kurus2an. Thu kamu lbih kurus drpd aku, ketawamu membahana. Hehe..
      18 Februari jam 15:34 ·
    • Yogi Hartono ‎@fatimah, dudu Yani rah, ada deh pokoknya cewe yang gerakannya paling lincah di 1A mirip bola bekel ha haha ha
      18 Februari jam 15:39 ·
    • Fatimah Fadli Paling lincah kan Yeti... Hahaha.. Tpi klo kalau pas crita2, dia kok naksir Mas Agus kakakmu. Hehe..
      18 Februari jam 15:43 ·
    • Reni Febriani hayooo Yogi...konangan kiye....
      18 Februari jam 15:48 ·
    • Yeti Partiningrum ‎@Fatimah, jangan ngaco deh... emang dulu suka njejerin sm tanganmu? emang aku lincah? hahaha... nggaklah..aku kok nggak inget blass..apalagi naksir kakaknya Yogi, waaahhh gak kenal kaleeee...hehehe...
      18 Februari jam 15:48 ·
    • Yogi Hartono ‎@fatimah, masa sih Yeti naksir kakangku, ha ha asem kiye ditaksir malah naksir wong liye ha ha ha
      @reni, kowen kenal si gandu? Bocah he bagus meneng, aku wingi ketemu lho
      18 Februari jam 15:53 ·
    • Hastati Hendriani Aku inget dulu 1b sekelas karo yeti parti, rosma, tapi aku paling inget sm bu tuti guru geografi sing gualake pol, bu lis wali kelas 2bku dan p khairil yg hobi nyubit sambil ngomong '10th yg akan dtg kalian akan ingat kalau apa yg dikatakan p khairil itu bener'
      18 Februari jam 15:54 ·
    • Yeti Partiningrum ‎@Yogi, dadi sing di taksir aku apa Yani huahaha...
      @Ani, aku mbiyen 1A, bukan 1B, mungkin krn aku dulu sering beredar ke kelas sebelah, jd berasa 1B yak? hehehe...
      18 Februari jam 16:01 ·
    • Hastati Hendriani Moso sih seingetku aku pernah sekelas karo koe, salah pok? He he.. Sori kalo gitu.
      18 Februari jam 16:07 ·
    • Muji Burokhman ehmm....aku jadi inget pak Tuharno....si jemari perkasa....kelas dua teringat ma bu lis yg centil...dan lemparan penghapusnya pak dul di lab ipa .....satu lagi...dulu aku nksir ma caroline....cantik,rendahhati dan tajir xixixi
      18 Februari jam 17:26 ·
    • Hastati Hendriani Caroline dikelasku dulu dibilang si patung porselen saking cantiknya he he..
      18 Februari jam 18:34 ·
    • W Wt Hidayati ‎@Ani: khusus untuk Ani...Yeti itu 1A.
      18 Februari jam 18:43 ·
    • W Wt Hidayati ‎@Yogi: wowww.....saiki aku nembe ngerti, kamu suka si kacamata tebel itu ya? Wkwkwkwkkk....
      18 Februari jam 18:43 ·
    • W Wt Hidayati Iya, memang ada budaya tuker kado dulu. Tapi seperti reni, aku lupa pernah ngasih apa dapat apa. Aku inget sama Loli, kenapa dia gak fb-an ya?
      18 Februari jam 18:45 ·
    • W Wt Hidayati ‎1A memang membuatku rindu...dan dendam. Suer....aku masih dendam jadi ketua kelas. Masih gak rela sampe sekarang. Huk..hukk...
      18 Februari jam 18:46 ·
    • W Wt Hidayati Sing aromane tubuh kayak bayi kuwi...Bagus. Dimana dia ya?
      18 Februari jam 18:48 ·
    • Muji Burokhman loli sih sapa wit?1A juga?ko aku ra ngerti ya....
      18 Februari jam 18:51 ·
    • W Wt Hidayati Dian Puspita Sari, Muji, yang duduk sebangku sama aku.
      18 Februari jam 20:43 ·
    • Fatimah Fadli Aku jg ingat sma anak laki 1A yg suaranya antik (namanya lupa). Sopo yo? Arma n azmi itu 1A jg kan?
      19 Februari jam 15:45 ·
    • W Wt Hidayati Sopo sih yang cowok suaranya antik? Arma bukan, Pipit ya.
      20 Februari jam 16:42 ·
    • Reni Febriani ‎@Yogi : gandu jelas kenal lah....kelas 3 ne kan sekelas karo aku..3d. Saiki primen kabare?isih dhuwur apa ora?
      @Mbak Wit : Bagus neng solo mbak...pernah ketemu karo aku, saiki dadi notaris...
      @All : masih inget bu warsi nggak?
      21 Februari jam 6:45 ·
    • Fatimah Fadli Bu Warsi guru menggambar kan? Aku dinilai jelek gara2 gak bsa menggambar gelas yg ada bayangannya dgn baik. Kakak sulungku yg jg alumni SMP 2 skrg jd guru OR dan Waka Kesiswaan SMP 2 lho. Aku jd ingat sm Pak Uripno, yg klo pas doa upacara, anak2 mengamini dgn kata2 "KAOS".
      21 Februari jam 7:22 ·
    • W Wt Hidayati Gandu...?!! Aku sering liat dia, sering ikut turnamen voli di sekitar wilayah pemalangan....kenal sama suamiku. Masih dhuwur, Ren. SMA nya SMA 2.
      Bu Warsi...?! Terakhir dia jadi kepala sekolah, tapi nggak tahu sekarang.
      21 Februari jam 7:58 ·

MALU KITA

      Sungguh mujarab !   Menjadi asyik maksiat   Membuat sebab khianat   Betapa dahsyat !   Meruntuhkan iman  Menghapus peradaban.