Senin, 25 April 2011

JODOH

JODOH

oleh W Wt Hidayati pada 18 Februari 2011 jam 21:30
Bagaimana Anda mendapatkan pasangan hidup sekarang? Dijodohkan, dicarikan orang lain, atau menemukan sendiri ?

Ini kisah tentang sebuah perjodohan.
SEASON I :
Aku adalah seorang gadis, berumur 24 tahun, lahir dan dibesarkan dari sebuah keluarga yang pas-pasan. Pas, karena kami tidaklah kekurangan, tapi juga tidak berlebihan.
Aku tinggal di sebuah desa di suatu kota pantai di Jawa Tengah. Bapakku seorang guru dan ibuku cukuplah ibu yang total bekerja di rumah saja, mendampingi dan melayani ayahku dan keempat anaknya.

Aku anak bungsu. Mungkin karena itulah, aku menjadi anak kesayangan bapakku. Hubungan kami sangat dekat, bahkan bisa dibilang lebih dekat daripada dengan ibuku. Bukan aku lebih mencintainya daripada ibu, aku mencintai keduanya tentu saja. Tetapi...dengan ayah, aku bisa menjadikannya teman, sementara dengan ibu, tidak.
Aku dan ayahku, kami sangat saling terbuka. Kami bisa lepas bercanda. Seringkali, ibuku menampakkan wajah yang cemburu, aku tahu itu. Oh, Ibu, percayalah...aku pun sangat menyayangimu.

Di desaku, untuk gadis seumur denganku, aku termasuk golongan manusia langka. Yang kumaksud, jarang sekali ada gadis yang bisa sekolah hingga mencapai jenjang perguruan tinggi sepertiku, bahkan SMA sekalipun. Kebanyakan, seusiaku ini, mereka sudah menjadi istri dan ibu. Aku belum.

Tetapi, itu tak menjadi kekhawatiran keluargaku. Kenapa? Karena, meskipun aku belum menikah, aku sudah punya calon suami.
Ya, sejak bayi, aku telah dijodohkan oleh orang tuaku. Bukan atas kehendak mereka sebenarnya, tetapi kehendak sebuah keluarga lain, ketika mereka melihatku lahir.

”Piye nek mbesuk dadi mantuku?” begitu kata seorang lelaki tetanggaku waktu menengok aku masih bayi.

Bapakku, dengan setengah bercanda, spontan menjawab, ”Oleh wae.”

Begitulah. Sabda pandhita ratu. Setiap kata yang kita ucapkan, menjadi sebuah ketetapan.
Maka, tumbuhlah aku menjadi seorang gadis yang telah mempunyai calon suami, dari sejak lahir.

Waktu berlalu, kini aku telah dewasa. Dipandang orang cantik, dan berpendidikan. Tetapi....aku bukanlah gadis yang bahagia.
Perjodohan itu, seiring dengan berlalunya waktu, sangatlah menyiksaku. Dulu mungkin, aku tak memikirkan apa-apa, karena tak merasakan apa-apa. Tetapi makin besar, aku makin mengerti, bahwa laki-laki jodohku itu, sama sekali tak aku sukai. Setiap waktu, perasaan itu makin berkembang. Aku tak bisa menyenanginya, bahkan sebagai seorang teman. Dia menjadi figur yang justru aku benci, dan muak. Keluarganya dikenal terpandang, hampir semua orang selalu menganggap aku beruntung menjadi calon istrinya. Sungguh menjengkelkan. Aku bahkan tak pernah mau mengenalnya, atau menganggapnya ada. Perasaan ini mulai terasa sejak SMA.

Bagaimana bapak ibuku? Mereka terikat perjanjian. Meski begitu, aku tahu ibuku sangat menerima baik keadaan ini, lebih daripada bapakku.
Bapakku sangat paham bagaimana perasaanku. Beliau tahu dengan siksaan yang menderaku, tapi beliau tidak bisa apa-apa. Seringkali, beliau membujukku dengan gaya menghibur.
            ”Yang ikhlas, ya Ndo? Mengertilah, bapak dan ibu menyayangimu. Belajarlah menerima, bapak tidak mungkin membuatmu hidup menderita kelak.”
Begitulah. Dan aku, adalah seorang gadis penurut, yang sungguh-sungguh tak pernah ingin menyakiti hati mereka, dan selalu ingin melakukan apapun demi mereka. Tak ada dalam kamusku, untuk memenangkan keinginanku dengan mengorbankan harapan mereka.
· · Bagikan · Hapus


    • Hastati Hendriani Kisah nyata nih?
      18 Februari jam 21:40 ·

    • W Wt Hidayati Masih teka-teki, dong.
      18 Februari jam 21:51 ·

    • Hastati Hendriani Jiaah...
      18 Februari jam 22:25 ·

    • Sasmito Ruba'i Soale pas sma atine jatuh ke laki-laki lain, ndean?
      19 Februari jam 7:43 ·

    • W Wt Hidayati ‎@sas: blm, sas, cm naksir2 thok tapi akeh.
      20 Februari jam 15:47 ·


  • Tekan Shift+Enter untuk memulai baris baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MALU KITA

      Sungguh mujarab !   Menjadi asyik maksiat   Membuat sebab khianat   Betapa dahsyat !   Meruntuhkan iman  Menghapus peradaban.