NGAYAL
oleh W Wt Hidayati pada 04 Maret 2011 jam 12:23
Ini aku benar-benar mengkhayal. Jangan sampai ada yang marah, ya?
Aku bisa saja punya lembaga pendidikan sendiri. Dengan itu, aku akan membangun gedung sekolahnya, ber-kelas-kelas, lengkap dengan seluruh fasilitas yang dibutuhkan, yang yahud, elite, dan wah pokoknya.
Ada guru-guru, staf TU, dan tenaga-tenaga pembantu yang profesional tentunya.
Sebagai pemilik, aku sekaligus adalah kepala sekolah, kepala dewan sekolah, kepala komite, ...pokoknya aku memegang tampuk kekuasaan tertinggi.
Semua yang bekerja di situ adalah bawahanku. Siapapun yang bekerja tidak dalam kapasitasnya, gampang saja kuberhentikan. Gitu 'kan?
Gini, sebenarnya khayalanku adalah : bagaimana aku dapat menilai kinerja para bawahanku dengan sebenar-benarnya ?
Aku ingin menyediakan fasilitas kamera yang memonitor seluruh ruangan dan seluruh tempat radius 50 meter di sekitar gedung sekolah. Lengkap.
Aku dapat cukup duduk saja, atau tiduran, makan, dsb., sambil memantau seluruh kegiatan dari mulai pelajaran sampai pulang sekolah. dari ruanganku, aku dapat melihat aktifitas anak-anak belajar. Aku dapat tahu kelas mana yang kosong tanpa gurunya. Tidak perlu keliling kelas-kelas. Di setiap kelas ada pengeras suara, dan kalau ada sesuatu yang ingin kusampaikan ke suatu kelas, aku dapat halo-halo dari ruanganku saja.
Misalnya, "Pengurus Kelas IA, coba panggil Bu/Pak Anu, untuk segera mengajar." jika ada guru nyang tanpa keterangan tidak segera masuk kelas.
Atau, "Kerjakan tugas, Anak-anak.", dan sebagainya, deh.
Juga suatu ketika, mungkin aku perlu untuk melakukan supervisi terhadap seorang guru, maka....tidak perlulah aku berkunjung ke kelas untuk menyaksikan sang guru mengajar. Cukup dari ruanganku saja.
Jadi, aku tidak susah-susah menunggu laporan dari orang-orang "terpilih", susah-susah memanggil guru dan memintany ke kelas.
Enak, mudah untuk melihat, siapa yang suka, sering, kadang-kadang, tidak sengaja, sengaja, pegi sebentar ke toilet, pergi sebentar untuk makan, atau siapa yang suka internetan.
Haa..haa...haaa..haaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...............
Sungguh, itu hanya khayalan semata.
Aku bisa saja punya lembaga pendidikan sendiri. Dengan itu, aku akan membangun gedung sekolahnya, ber-kelas-kelas, lengkap dengan seluruh fasilitas yang dibutuhkan, yang yahud, elite, dan wah pokoknya.
Ada guru-guru, staf TU, dan tenaga-tenaga pembantu yang profesional tentunya.
Sebagai pemilik, aku sekaligus adalah kepala sekolah, kepala dewan sekolah, kepala komite, ...pokoknya aku memegang tampuk kekuasaan tertinggi.
Semua yang bekerja di situ adalah bawahanku. Siapapun yang bekerja tidak dalam kapasitasnya, gampang saja kuberhentikan. Gitu 'kan?
Gini, sebenarnya khayalanku adalah : bagaimana aku dapat menilai kinerja para bawahanku dengan sebenar-benarnya ?
Aku ingin menyediakan fasilitas kamera yang memonitor seluruh ruangan dan seluruh tempat radius 50 meter di sekitar gedung sekolah. Lengkap.
Aku dapat cukup duduk saja, atau tiduran, makan, dsb., sambil memantau seluruh kegiatan dari mulai pelajaran sampai pulang sekolah. dari ruanganku, aku dapat melihat aktifitas anak-anak belajar. Aku dapat tahu kelas mana yang kosong tanpa gurunya. Tidak perlu keliling kelas-kelas. Di setiap kelas ada pengeras suara, dan kalau ada sesuatu yang ingin kusampaikan ke suatu kelas, aku dapat halo-halo dari ruanganku saja.
Misalnya, "Pengurus Kelas IA, coba panggil Bu/Pak Anu, untuk segera mengajar." jika ada guru nyang tanpa keterangan tidak segera masuk kelas.
Atau, "Kerjakan tugas, Anak-anak.", dan sebagainya, deh.
Juga suatu ketika, mungkin aku perlu untuk melakukan supervisi terhadap seorang guru, maka....tidak perlulah aku berkunjung ke kelas untuk menyaksikan sang guru mengajar. Cukup dari ruanganku saja.
Jadi, aku tidak susah-susah menunggu laporan dari orang-orang "terpilih", susah-susah memanggil guru dan memintany ke kelas.
Enak, mudah untuk melihat, siapa yang suka, sering, kadang-kadang, tidak sengaja, sengaja, pegi sebentar ke toilet, pergi sebentar untuk makan, atau siapa yang suka internetan.
Haa..haa...haaa..haaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...............
Sungguh, itu hanya khayalan semata.
- Indar Wati dan Elly Supriyanto menyukai ini.
Anggaraini Maulina K hahahahaha....sungguh hayalan inyong juga tp yg ada dlm benakku lbh fantastis dan dramatis hanya aja blm sempat kutuangkan dlm tulisan, msh sebatas ide dasar untuk memulai sebuah tulisan....good,good04 Maret jam 13:32 ·
Muji Burokhman wah..itu sih bisa dicapai wit,yang penting duitnya ada. yang gak mungkin sih gini....dengan fsilits yg lebih....wiwit ga mungut sepersenpun uang pendidikan...appun namanya...baru tuh acum jempol...jempol empat2nya!04 Maret jam 16:12 · · 1 orangMemuat...
Hastati Hendriani Melas nemen sing dadi pegawai karo muridte ora bebas babar blas, lagian yen kabeh kaya kue penduduk indo sing penganggurane segambreng tambah sengsara raah, wong sekolah seguede apa sdm me kur sitik. Mending ky saiki baelah, boleh bebas sedikit asal aje kebangetan, tetap tanggung jwb dan berprestasi. Iya ga prend?04 Maret jam 16:19 · · 1 orangMemuat...
Adi Prabowo Muji> siiip muji.. andai khayalan wiwit adalah membangun sebuah lembaga pendidikan yang dengan segala fasilitas yang sangat mutakhir, dengan staff pengajar yang profesional tetapi tanpa uang pendidikan sepeserpun, pasti akan banyak kesempatan utk anak pandai yang tidak punya biaya utk sekolah.. salut..salut.. 2 jempol utk wiwit.04 Maret jam 16:21 · · 1 orangMemuat...
Muji Burokhman @ani....kl yang pake cctv di setiap kelas dah ada tuh...di semarang juga dah ada04 Maret jam 16:51 ·
Reni Febriani @ani : kiye mbak wiwit lagi ngayal, eje diprotes....wong kan bebas ngayal apa bae, termasuk sing ora masuk akal....ngayal beda karo harapan...bener apa ora?04 Maret jam 18:04 ·
Hastati Hendriani Reni : salah komen ya? Ha ha...
Muji: tau kok ada kelas yg pake cctv di tiap kelas, kira2 efektip ga ya?04 Maret jam 18:10 ·
Yogi Hartono Kenapa khayalan? Kenapa bukan impian? Ibarat ngeliat gelas isi separo=setengah penuh atau setengah kosong, jadikan khayalan sebagai impian.
Aku sejak kecil gak suka mengkhayal, tapi sering memimpikan sesuatu. Mimpi tersebut aku jadikan semacam guiden, visi pribadi yg harus kita realisasikan. Jadi lewat mimpi aku men drive pribadiku sekuat energi menggapai cita05 Maret jam 4:06 ·
Yogi Hartono 15 thn yl aku sempet ditawari dadi pns gantiin bokap di pemalang. tapi berhubung impianku jadi jurnalis yg bisa terbang ke angkasa, yo ra sido manggon nang pemalang. So bermimpilah jangan mengkhayal.05 Maret jam 4:10 ·
Ida Cholisa kamera-ne sekalian pasang nang WC sekolah Wit, biar tahu mana yang suka pipis sembarangan tanpa diguyur, heheheee...
bukankah WC sekolah banyak yang beraroma "wangi'?05 Maret jam 6:58 ·
W Wt Hidayati @Muji, Adi: memang, akupenginnya gratis gak pa-pa....sing penting aku punya kuasa, untuk membrantas semua yang tak seide denganku,yang gak mau kerja dengan aturanku. Kejam, ya? Tapi indah.06 Maret jam 8:44 ·
W Wt Hidayati @Yogi: itu kayalan benar, lagi nganggur, dan sewot....kalo terus kerja dikelilingi pihak-pihak berwenang. Kalo impian banyak, menjadi guru adalah salah satunya. Sekarang, ...impianku tertuju paling dekat ke anak-anakku dulu, mereka adalah asetku paling berharga, untuk kehidupan akhir nanti.06 Maret jam 8:48 ·
W Wt Hidayati @Yogi: itu kayalan benar, lagi nganggur, dan sewot....kalo terus kerja dikelilingi pihak-pihak berwenang. Kalo impian banyak, menjadi guru adalah salah satunya. Sekarang, ...impianku tertuju paling dekat ke anak-anakku dulu, mereka adalah asetku paling berharga, untuk kehidupan akhir nanti.06 Maret jam 8:48 ·
W Wt Hidayati @Ida: semua tempat, Da, WC juga. Tapi khusus WC diruanganku tidak, dong. He..hee...06 Maret jam 8:48 ·
W Wt Hidayati Doakan, dong, serius nih. Kapan pun waktunya, seperti Kartini, meski sebatas tetangga, aku ingin anak-anak berkumpul dalam suatu komunitas belajar gratis, meski hanya lesehan, bukan juga harus dalam sistem pendidikan yang formal, sing penting memberi kesempatan mereka (kaya atau miskin) belajar. Ini kategorinya apa, ...khayalan atau impian? Yang jelas, sebuah "pemikiran". @Yogi.06 Maret jam 8:54 ·
W Wt Hidayati @Hastati: lha memang itu untuk tidak "membebaskan" siapapun yang tidak mau bertanggungjawab. Ben ojo sembarangan kerja. (khayalanku kejem, ya An? Apa maning angger terlaksana. Hii..hiii...medheni. Beranikah aku nmenjadi penguasa yang kejam...?!!)06 Maret jam 8:58 ·
Edinur Ismulyanto Wah kalau maunya ngontrol sistem bisa sambil tiduran/makan dan ongkang-ongkang, siapa sebenarnya nih yang males-malesan.?06 Maret jam 12:15 ·
Iyas Diono haha,... tuh kan dah kelihatan diktatornya,..gak mau nerima masukan org lain,xixix,....07 Maret jam 16:22 ·
W Wt Hidayati @Iyas: iye...kayane aku punya bakat diktator. Timbang sering di-diktator-i.07 Maret jam 23:38 ·
Titi Yustiningsih Yustiningsih tapi aku takut kamu malah kena struuk loh wit,gak pernah kemana2 sih cuma bengong tok di kantor08 Maret jam 8:57 ·
Tidak ada komentar:
Posting Komentar