Senin, 25 April 2011

BOL POL

BOLA POLITIK

oleh W Wt Hidayati pada 30 Desember 2010 jam 14:42
Sebenarnya, aku selalu bertanya, lebih menarik mana...Bola atau Politik ? Apakah sepakbola, sehingga politik ikut ngrangsek ke lapangannya...? Atau politik, sehingga sepakbola pun memanfatkannya ?
Yang jelas....diantara keduanya ada media informasi. Media itulah yang dapat menggunakan keduanya untuk menarik, mengolahnya menjadi pemicu gelombang polemik.
Aku masih tidak tahu. Makanya, aku tidak bisa menyalahkan mana yang mesti bertanggungjawab jika sepakbola kita belum memberi kepuasan pada rakyat Indonesia.
Bagaimana kalau begini saja...entah bola atau politik...kita benahi saja apa yang paling dekat dengan kita. Pendidikan moral, eh, sekarang pendidikan karakter bangsa, ding.
Bukan aku mengatakan moral kita telah rusak, lho. Tapi...ya...memang sepertinya mau begitu sih.
Sungguh, aku hanya seorang ibu, yang kebetulan punya perhatian ke sepakbola, dengan 3 anak kecil. Kebetulan juga ada banyak anak orang lain, pribadi-pribadi tempat aku membagi sedikit ilmu kehidupan.
Bola atau politik...menang atau kalah...bukan masalah, yang aku inginkan, menjadi bangsa yang luhur budi pekertinya di semua segi kehidupan.
Jadi, semoga tak perlu lagi ada kepentingan sendiri yang mengorbankan orang lain, tak ada "wajah-wajah dusta yang tega tertawa sementara korban menjerit di kedua kakinya", dan para "informan" media informasi...anda juga punya peran penting membentuk  kepribadian kami.
(Ternyata terpenuhi sebuah pemikiran seorang teman, bahwa aku akan menulis tentang Bula-bula Pulitik. He..hee...salam)
· · Bagikan · Hapus
  • Insan Adjie menyukai ini.
    • Fatimah Fadli Memang kerjanya media, nggatuk2no suatu kejadian. Lha kalo yg nonton bola kmrin adalah para guru, lain lgi ceritanya, jadi "bula bula buguru".
      30 Desember 2010 jam 14:51 melalui Facebook Seluler ·
    • W Wt Hidayati Hahahahaa....Fetty bisa aja. Tapi memang teman-teman guru dho nonton, koq.
      30 Desember 2010 jam 14:53 ·
    • Insan Adjie Kalo masalah politik emang jauh2 dari hidupku....tapi setuju banget tuh kalo kita benahi apa yang perlu dimulai dari yang terdekat dan utamanya dari diri kita masing2 dulu....kasih teladan dan contoh yang baik.....nice note jeng.....
      30 Desember 2010 jam 15:17 ·
    • Priyo Utomo Bu Wiwit, Panj. kayaknya lebih patut menjadi seorang wartawan daripada jadi guru. Ulasan anda sangat baik. Bisa menghubungkan antara sepak bola, nasionalisme dan pendidikan karakter bangsa. Salut buat Panjenengan bu.
      30 Desember 2010 jam 15:30 ·
    • Jhon N Sarjono Kau membicarakan keterkaitan bola dan poitik yang menarik hati media, ya..
      He.he..
      30 Desember 2010 jam 15:55 melalui Facebook Seluler ·
    • W Wt Hidayati ‎@Jhon : media yang bisa membelokkan perhatian kita, bikin bingung fokusnya apa..sepakbola koq tekane prngrf juga.
      30 Desember 2010 jam 18:37 ·
    • W Wt Hidayati ‎@Pak Priyo : wartawan mobilitasnya tinggi, dia gak cocok kalo banyak diam di rumah...jadi, gak bisa, Pak. Aku orang rumahan....ha...haa...
      @Insan: Thank you...'n setuju, Bu.
      30 Desember 2010 jam 18:41 ·
    • Jhon N Sarjono Wit..maksud gw paragraf pertama lbh cocok politisasi sepakbola atau sebaliknya..
      30 Desember 2010 jam 18:53 melalui Facebook Seluler ·
    • W Wt Hidayati ‎@@Jhon: iya..memang...terus kucampur aduk lainnya, semrawut ya Pak?
      30 Desember 2010 jam 19:02 ·
    • Sasmito Ruba'i Bagaimana pula dgn "Bola-bola Hati" setiap kita, di relung setiap anak bangsa?
      30 Desember 2010 jam 19:26 melalui Facebook Seluler ·
    • W Wt Hidayati Sas...senenge nggulirke bola-bola, sih.
      30 Desember 2010 jam 19:31 ·
    • Yogi Hartono
      Wit, ono loro aliran nang media, universalitas serta konstruktifitas. Yang pertama pendekatannya media itu bebas nilai, ukurannya kuantitatif, penekanan pada pemberitaan sebuah realita.
      2. Dalam konstruktifis, media harus punya nilai. Pendek...atannya kualitas. Fungsi media tak sekedar menampilkan realitas tapi juga mengkonstruksi realitas. So penekanan lebih ke subyeknya bukan obyeknya.

      Coba wiwit sekarang kamu petakan korelasi bola, politik dan media.
      Lihat Selengkapnya
      30 Desember 2010 jam 20:24 melalui Facebook Seluler ·
    • W Wt Hidayati
      ‎@Yogi Hartono : khusus untuk moment AFF kemarin, koq Yogi. Memang agak kubuat kabur catatan itu...biar gak vulgar...cuma karena sedikit sewot aja. Ketika ada fenomena sedikit cerah pada sepakbola kita, lalu masuk kepentingan politik sebuah... pihak/lebih mungkin, ke dalamnya. Lalu, maaf,....kupikir bahwa banyak hal dalam negara kita ini yang menjadi begitu rame, karena media lah yang mampu meramekannya. Aku menyatukannya jadi satu...lalu aku bertanya, mengapa untuk sepakbola kita, tidak ada fokus perhatian ? Mengapa menjadi ke arah lain-lain, sampe ke......ini yang kututupi....simbol-simbol pornografi ? Di sebuah pembicaraan yang kualami...ketika kita sedang membahas serius sepakbola kita, tiba-tiba pembicaraan itu berubah arah tentang....kau tahulah, Azhari, Jupe, maaf....!!!
      Materi tentang korelasinya sebenarnya bukanlah ynag bisa kubahas, karena justru aku mempertanyakan...apa yang terjadi pada negara kita ini ?
      Dan ternyata....yang kutulis pada akhirnya tentang diriku dan keetidakpahamanku mengenai semua itu.
      Dan terima kasih detail penjabaranmu tentang dunia media itu. Sedikit-sedikit 'kan aku jadi ngerti teorinya. Memang itu yang ingin kuperoleh, tahulah...mengapa aku tag kamu, sebagai pemeran penting dunia media kita.
      Gak nesu, tho?
      Lihat Selengkapnya
      30 Desember 2010 jam 23:22 ·
    • Yogi Hartono
      Wiwit aku ra nesu he he he aku paham yen media juga punya kepentingan. Siapa pemodal dibelakang media juga bisa mempengaruhi konten pemberitaan. Contohe mungkin gak tv one, antv memberitakan kasus lapindo? Rcti membahas kasus sisminbakum, d...etik com gak kritis ttg krakatau steel, atau indosiar ttg kaburnya phiong? He he

      Tentang bola beberapa media terjebak dam jurnalisme lebay, berlebihan, mendompleng trending agenda. Jurinya kan pemirsa via remot control, klik
      Lihat Selengkapnya
      31 Desember 2010 jam 7:08 melalui Facebook Seluler ·
    • W Wt Hidayati Iya, bener, remote kontrol pegang peranan paling penting. Yen ora manut Ummi, ta' banting kyeh. Ihh...galak nemen Ummi, begitu mungkin pikir anakku.
      31 Desember 2010 jam 8:01 ·

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MALU KITA

      Sungguh mujarab !   Menjadi asyik maksiat   Membuat sebab khianat   Betapa dahsyat !   Meruntuhkan iman  Menghapus peradaban.