Sang dokter itu telah menikah lagi, setelah perkawinan pertamanya berakhir dengan perceraian. Kini, telah lahir seorang putri kecil yang cantik. Istrinya yang wanita biasa, penuh menjadi milik rumah, miliknya utuh.
Tetapi, tak seorang pun yang mengetahui, jauh di tikungan sempit hatinya, ada aku. Ya....aku.
Seharusnya, tidak ada yang mengetahuinya, menurutnya, menurutku, karena sejak di masa yang jauh berlalu, ada dentuman lembut jantungnya, kepadaku.
Ya...seharusnya, karena dipikirku pun tak terbersit itu,...sekali dulu.
Pasti tidak mungkin, dia menyukaiku. Mungkin sedikit naksir, menilai, tapi.....
Ah,....aku pernah tertawa sekali, ketika dia katakan aku cinta pertamanya, tak serius dan tak bermakna apa-apa.
Kami berteman, biasa, bukan teman mesra. Kami hanya banyak menikmati kebersamaan, tidak juga berdua. Banyak berkirim kabar, ketika berjauhan kota. Ku kira hanya itu.
Kini, dia adalah sang Dokter. Satu kota. Dan aku, seperti orang biasa lainnnya baginya, tentu ada momen-momen kami bertemu, dia adalah dokter, dan aku cukup jadi pasien.
Sebenarnya, tidak secara langsung. Yang ingin kusampaikan adalah...aku tak pernah benar-benar bisa menjadi pasiennya. Tentu saja, karena tiap kali aku mendatanginya, aku selalu duduk, menjelaskan detil keluhan fisikku, atau bahkan lebih ekstrem...aku bisa jadi lebih pandai darinya dalam soal penyakitku. jadi, datang dengan tiba-tiba saja, dan bilang,
"Aku perlu obat ini, itu...."
Dan dia akan tersenyum,
"Ya harus saya periksa, dulu, Mba." Begitu katanya. (kenapa dia tetap memanggilku "mba"...?!, entahlah.)
Lalu aku, dengan congkak kukatakan,
"Sudahlah, tidak perlu. Aku sudah kenal sakitku ini, ayo berikan saja obatnya."
Dia kembali tersenyum, tapi menyerah. Dalam gerutuan, atau kekaguman, mungkin juga harapan.
"Aku ini 'kan paramedis, Mba, bukan paranormal." katanya.
"Memang kenapa?" tanyaku.
"Setiap kali datang, aku seperti harus menebak apa penyakitmu."
Hahahah.....aku akan tertawa sedikit.
Sebenarnya, memang, ada sesuatu yang membuatku tak ingin dia menyentuhku. Meski hanya sebatas lengan untuk diukur tekanan darahku, sebatas ditutul-tutul stetoskopnya dengan baju yang tetap utuh. Tetap saja...aku tak ingin merelakannya.
Kenapa...?! Pertanyaan yang menggoda tanpa antusias menjawabnya.
Lebih istimewa lagi, aku cukup menelponnya, untuk meminta obat, dan dia akan mengantarkannya kepadaku. Tapi....yang inipun dia mau melakukannya hanya dengan berhenti di jalan rumahku, dalam perjalannya ke rs kantor kerjanya.
Tetapi,...suatu waktu...terjadilah apa yang seharusnya. Ketika aku harus terkapar tak berdaya, aku membiarkannya. Yaa....dia mengambil sebelah lenganku, mencari detak jantung dipergelangan tanganku, lalu memompaku. Aku terkulai, menyerah, untuk diapa-apakan olehnya. Layaknya pasien, hidupku akan dinilai olehnya.
Semburat kecemasan membayang di matanya...tipis....tapi lengkap. Dia tak pernah menatap langsung mataku, atau sebaliknya...entahlah mengapa kami tak pernah berani mempertemukan mata dengan sengaja.
Dia hanya murah hati...murah senyum....murah obat..bahkan kadang gratis saja. Haahahahhha......
Sang Dokter dengan tenangnya, menghitung detak nadiku..dalam hatinya pasti.
"Akhirnya..." sebuah kata keluar tercekik dari bibirnya.
"Kenapa, Dok ?" tanyaku, gundah.
Sekilas, kutangkap lengkungan alisnya saling mendekat. Ada nada terkikik yang ditahannya.
"Setelah sekian lama, baru kali ini kusentuh kulitmu." Sebuah kalimat lemah dan sempurna.
Ah....batinku mendesah. Diam. Tidak boleh. Ini bahaya. Dia tak boleh mendengar desahku, pikiran-pikiran rahasiaku yang tersimpan mengerikan, selama ini.
Dalam tarikan pelan nafas yang begitu berat, tiba-tiba aku menemukan...banyak kemungkinan jawaban dari satu pertanyaanku selama ini. Siapa dia,...siapa kami sebenarnya?
Dalam samar, sepertinya aku melihat dia, adalah sebuah peti kayu dengan tulisan DANGER, sebuah kardus bergambar gelas RETAK, sebuah kemasan mainan dengan tanda PETIR. Seperti KOMPOR GAS yang siap disulut apinya, lalu....BOOM...
Dokter itu, dokterku, adalah manusia yang penuh tanda bahaya di sekujur tubuhnya, jalinan otot yang terbungkus daging keras, panas, tapi bisa terasa begitu lunak ketika menempel di indra perasaku.
Jadi benar, dia mendekapku dijiwanya, mengurungku di bilik jantungnya, memenjarakanku dalam suatu ruang hampa udara, hingga aku seperti mati. Tak ada orang lain mendengar nafasku dalam kehidupannya, melihat kehadiranku di langkah-langkahnya.
Oh,...dokterku yang malang. Pasti sangat tersiksa kau membangun tirani buatku.
Aku...adalah seorang istri...juga ibu...juga wanita...tapi bukan untuknya.
Untuknya, aku tetap sosok warga dari sebentuk komunitas manusia.
Setiap dari kami, menyimpan misteri sendiri.
Maka setelah momen unik itu, aku kembali seperti semula. Menempatkan segalanya pada porsinya.
Tak perlu ada yang berbeda, setidaknya berpura-pura tetap sama. Agar dia, aku, tetap biasa.
Tetapi ternyata, pada akhirnya, terkuak lah sebuah misteri, ketika aku harus menelponnya malam-malam, untuk meminta obat...alasan apa lagi selain ini, aku tak pernah berpura-pura untuk rasa sakit.
Namaku Sri.
"Dok, tolong bawakan aku obat kesini. Tidak layak jika saya ke sana. Bisa, ya?" begitu pintaku, tidak mendayu-dayu, cukup tegas menuntut.
"Aduh, gimana ya? Sudah malam, Mba." jawabnya.
"Makanya aku minta diantarkan ke sini."
Ada keraguan yang didenguskannya, aku dapat mendengar itu.
"Mba, sulit rasanya."
Terpikir olehku, dia hendak memulai sebuah penjelasan aneh, yang mungkin mengejutkan. Aku tenang menunggu kalimatnya lagi. Kemudian,..
"Masalahnya, istriku tahu bahwa aku tak menerima panggilan pasien ke rumah, tetapi kenapa kalo Mba Sri yang panggil koq aku mau, begitu katanya."
Hahh....woww....begitu, ya?! Sontak kejutan kecil menyetrumku.Tetapi kejutan ini tidak menyakitkan, malah menggelikan.
"Oh..begitu. Ya sudah. Begini saja, Dok, datanglah ke rumah Pak RT, lalu titipkan obat di situ, akan aku ambil sendiri, lebih aman bagimu dan istrimu."
Begitu jawabku....dengan ledakan tawa tak beraturan, lirih di hatiku, bersamaan dengan kediaman yang sungguh hening. Senyap.
Semakin benar, bahwa setiap manusia memyimpan misterinya. Istri sang dokter adalah manusia, dan banyak yang lainnya, saling mengerumuni.
Aku, tepatnya kami, tak boleh bermain-main lagi menghadapi mereka. Aku tak lagi yakin, bahwa mereka memandang di antara kami tak ada yang istimewa.
Pastilah, setiap jiwa yang hidup itu, punya banyak pertanyaan tentang siapa kami, bagaimana kami. Mereka, termasuk istri sang dokter itu, tak tampak punya pertanyaan, karena sudah menyediakan jawaban yang pasti, menurut versi sendiri-sendiri.
Oh...Dokterku, istrimu cemburu padaku.
(Bohong jika kukatakan "baca saja, tidak perlu komentar" atau "tidak mengapa kalo kamu gak mau baca, aku cuma pengin nulis, koq".
Lha wong nulis sesuatu di ajang publik seperti ini, tentu berharap untuk dibaca 'kan? Terima kasih saja jika ada yang bersedia menilainya. Salam sebelum dan sesudah baca.)