Jumat, 21 Oktober 2011

PROSA MALAM


                                    

Hujan Malam. Derasnya sedang. Tak terlalu dingin, cukup menyejukkan. Ini malam yang ke sekian kalinya aku sendiri, tapi tak sepi. Semestaku riuh oleh suara  lirihmu yang terangkai angin. Dimensiku seluruhnya penuh dengan siluet utuhmu. Ruang pikirku tak henti berdeskripsi tentangmu. 
Hening.....bening.....aku mengingatmu sempurna. Senyummu yang menentukan lapang sempitnya hatiku. Kerling matamu yang mengharuskan aku terpesona. Harum hadirmu yang menebar karisma. Aku tertawan aman oleh tirani lentur yang tak terpatahkan.
Hujan....telah berhenti. 
Tapi kau semakin mendekapku erat, di setiap sendi. Kehangatan menelusup sukma. Rasaku terbakar, akan nyala api ragamu yang melekuk liuk, kadang tegak, kadang melemah indah. 
Dan hujan...belum rinai lagi.
Aku tetap sendiri, tapi tak sepi. Aku tahu kau setia menemani, meski di lain dimensi. Kita bisa berbicara tanpa kata, menatap tanpa mata, berkecupan dalam hela nafas kita. Bercinta tanpa raga.
Malam turun dari puncaknya. Dini hari....embun terbangun, meninggalkan langit. Lalu sengaja menjatuhkan diri, di hamparan daun-daun, di kuntum bunga, di batang-batang keras dan kokoh. Semak, perdu, rumput,...semua menyerah akan serbuan lembutnya yang satu-satu.
Sayang, Kekasih teramat dalam,....marilah kita kembali berpisah sementara. Ada kekasih lain yang ingin kupeluk erat. Wanginya bukanlah wangimu. Senyumnya bukanlah senyummu. Geloranya berbeda darimu. Tetapi....dia adalah juga gelombang, di lautanku. 
 ·  ·  · Bagikan · Hapus

    • Ida Cholisa wit, nyong seneng kalimat "kadang tegak, kadang melemah indah". jan dadi viktor kyeh...
      12 jam yang lalu · 

    • Keny Pemalang ‎..haha..ida ada2 saja.,nek nyong suka cara-mu menulis wit.,pilihan kt-nya mengalir apik..hehe..dan mencoba menangkap makna di balik prosa malam-mu..hmm..samar2 spt ada bayangan 'kekasih' pd dimensi lain..entah itu nyata ato fiktif..hehe..ato mgkn setiap 'kita' secara diam2 slalu menyimpan 'siluet' kekasih spt itu..hehe..*mung komen thok..
      9 jam yang lalu · 

Selasa, 19 Juli 2011

THE TOWN

Film ini dibintangi Ben Affleck. Sama seperti OCEAN ELEVEN, ceritanya berkisah tentang kelompok perampok.
Dari dua film ini, aku bisa menyimpulkan, ternyata aku menyukai tipe-tipe orang perampok, asal dia 'good looking' atau 'smart'. 

Senin, 11 Juli 2011

CALCIO

Lama dulu, aku begitu asyik berkutat dengan Calcio,kompetisi liga Italia. Akrab dengan wajah-wajah dan nama-nama,lengkap dengan pernak-pernik yang mengikutinya.
Mulai dari La Viola ( Fiorentina), Sampdoria, AC Milan dan Inter Milan, Juve, Roma, Lazio, dll.
Seragam-seragamnya. Dan tentu saja, yang pertama adalah si Ungu La Viola.
Aku juga akrab dengan trio Basten, Guulit dan Rijkaard, hingga Zizou yang akrab kusebut Zio (paman) beserta dua ponakannya, Piero and Pippo.
Belum lagi kiper-kipernya, yang biasa seperti Sebastian Frey hingga super seperti Buffon.
Kini, lama aku meninggalkan mereka. Tenggelam oleh dunia baru, laut baru.
Dan aku mulai merindukan mereka. Pippo, yang sudah tidak lagi imut dan Piero yang semakin wise. Dan Zio Zizou,ah......

Sabtu, 11 Juni 2011

POHON

Seringkali aku ingin menjadi pohon
yang selalu setia menjadi teman manusia
binatang
bumi
langit
Tempat berteduh
bergantung
berlindung
Sayang....aku tak punya udara
sepertinya.

Sabtu, 04 Juni 2011

OH, DOKTER, ISTRIMU CEMBURU

OH,...DOKTER, ISTRIMU CEMBURU.

oleh W Wt Hidayati pada 02 Juni 2011 jam 0:26
Sang dokter itu telah menikah lagi, setelah perkawinan pertamanya berakhir dengan perceraian. Kini, telah lahir seorang putri kecil yang cantik. Istrinya yang wanita biasa, penuh menjadi milik rumah, miliknya utuh.
Tetapi, tak seorang pun yang mengetahui, jauh di tikungan sempit hatinya, ada aku. Ya....aku.
Seharusnya, tidak ada yang mengetahuinya, menurutnya, menurutku, karena sejak di masa yang jauh berlalu, ada dentuman lembut jantungnya, kepadaku.
Ya...seharusnya, karena dipikirku pun tak terbersit itu,...sekali dulu.
Pasti tidak mungkin, dia menyukaiku. Mungkin sedikit naksir, menilai, tapi.....
Ah,....aku pernah tertawa sekali, ketika dia katakan aku cinta pertamanya, tak serius dan tak bermakna apa-apa.
Kami berteman, biasa, bukan teman mesra. Kami hanya banyak menikmati kebersamaan, tidak juga berdua. Banyak berkirim kabar, ketika berjauhan kota. Ku kira hanya itu.
Kini, dia adalah sang Dokter. Satu kota. Dan aku, seperti orang biasa lainnnya baginya, tentu ada momen-momen kami bertemu, dia adalah dokter, dan aku cukup jadi pasien.
Sebenarnya, tidak secara langsung. Yang ingin kusampaikan adalah...aku tak pernah benar-benar bisa menjadi pasiennya. Tentu saja, karena tiap kali aku mendatanginya, aku selalu duduk, menjelaskan detil keluhan fisikku, atau bahkan lebih ekstrem...aku bisa jadi lebih pandai darinya dalam soal penyakitku. jadi, datang dengan tiba-tiba saja, dan bilang,
        "Aku perlu obat ini, itu...."
Dan dia akan tersenyum,
        "Ya harus saya periksa, dulu, Mba." Begitu katanya. (kenapa dia tetap memanggilku "mba"...?!, entahlah.)
Lalu aku, dengan congkak kukatakan,
        "Sudahlah, tidak perlu. Aku sudah kenal sakitku ini, ayo berikan saja obatnya."
Dia kembali tersenyum, tapi menyerah. Dalam gerutuan, atau kekaguman, mungkin juga harapan.
        "Aku ini 'kan paramedis, Mba, bukan paranormal." katanya.
        "Memang kenapa?" tanyaku.
        "Setiap kali datang, aku seperti harus menebak apa penyakitmu."
Hahahah.....aku akan tertawa sedikit.
Sebenarnya, memang, ada sesuatu yang membuatku tak ingin dia menyentuhku. Meski hanya sebatas lengan untuk diukur tekanan darahku, sebatas ditutul-tutul stetoskopnya dengan baju yang tetap utuh. Tetap saja...aku tak ingin merelakannya.
Kenapa...?! Pertanyaan yang menggoda tanpa antusias menjawabnya.
Lebih istimewa lagi, aku cukup menelponnya, untuk meminta obat, dan dia akan mengantarkannya kepadaku. Tapi....yang inipun dia mau melakukannya hanya dengan berhenti di jalan rumahku, dalam perjalannya ke rs kantor kerjanya.
Tetapi,...suatu waktu...terjadilah apa yang seharusnya. Ketika aku harus terkapar tak berdaya, aku membiarkannya. Yaa....dia mengambil sebelah lenganku, mencari detak jantung dipergelangan tanganku, lalu memompaku. Aku terkulai, menyerah, untuk diapa-apakan olehnya. Layaknya pasien, hidupku akan dinilai olehnya.
Semburat kecemasan membayang di matanya...tipis....tapi lengkap. Dia tak pernah menatap langsung mataku, atau sebaliknya...entahlah mengapa kami tak pernah berani mempertemukan mata dengan sengaja.
Dia hanya murah hati...murah senyum....murah obat..bahkan kadang gratis saja. Haahahahhha......
Sang Dokter dengan tenangnya, menghitung detak nadiku..dalam hatinya pasti.
       "Akhirnya..." sebuah kata keluar tercekik dari bibirnya.
       "Kenapa, Dok ?" tanyaku, gundah.
Sekilas, kutangkap lengkungan alisnya saling mendekat. Ada nada terkikik yang ditahannya.
       "Setelah sekian lama, baru kali ini kusentuh kulitmu." Sebuah kalimat lemah dan sempurna.
Ah....batinku mendesah. Diam. Tidak boleh. Ini bahaya. Dia tak boleh mendengar desahku, pikiran-pikiran rahasiaku yang tersimpan  mengerikan, selama ini.
Dalam tarikan pelan nafas yang begitu berat, tiba-tiba aku menemukan...banyak kemungkinan jawaban dari satu pertanyaanku selama ini. Siapa dia,...siapa kami sebenarnya?
Dalam samar, sepertinya aku melihat dia, adalah sebuah peti kayu dengan tulisan DANGER, sebuah kardus bergambar gelas RETAK, sebuah kemasan mainan dengan tanda PETIR. Seperti KOMPOR GAS yang siap disulut apinya, lalu....BOOM...
Dokter itu, dokterku, adalah manusia yang penuh tanda bahaya di sekujur tubuhnya, jalinan otot yang terbungkus daging keras, panas, tapi bisa terasa begitu lunak ketika menempel di indra perasaku.
Jadi benar, dia mendekapku dijiwanya, mengurungku di bilik jantungnya, memenjarakanku dalam  suatu ruang hampa udara, hingga aku seperti mati. Tak ada orang lain mendengar nafasku dalam kehidupannya, melihat kehadiranku di langkah-langkahnya.
Oh,...dokterku yang malang. Pasti sangat tersiksa kau membangun tirani buatku.
Aku...adalah seorang istri...juga ibu...juga wanita...tapi bukan untuknya.
Untuknya, aku tetap sosok warga dari sebentuk komunitas manusia.
Setiap dari kami, menyimpan misteri sendiri.
Maka setelah momen unik itu, aku kembali seperti semula. Menempatkan segalanya pada porsinya.
Tak perlu ada yang berbeda, setidaknya berpura-pura tetap sama. Agar dia, aku, tetap biasa.
Tetapi ternyata, pada akhirnya, terkuak lah sebuah misteri, ketika aku harus menelponnya malam-malam, untuk meminta obat...alasan apa lagi selain ini, aku tak pernah berpura-pura untuk rasa sakit.
Namaku Sri.
        "Dok, tolong bawakan aku obat kesini. Tidak layak jika saya ke sana. Bisa, ya?" begitu pintaku, tidak mendayu-dayu, cukup tegas menuntut.
        "Aduh, gimana ya? Sudah malam, Mba." jawabnya.
        "Makanya aku minta diantarkan ke sini."
Ada keraguan yang didenguskannya, aku dapat mendengar itu.
        "Mba, sulit rasanya."
Terpikir olehku, dia hendak memulai sebuah penjelasan aneh, yang mungkin mengejutkan. Aku tenang menunggu kalimatnya lagi. Kemudian,..
         "Masalahnya, istriku tahu bahwa aku tak menerima panggilan pasien ke rumah, tetapi kenapa kalo Mba Sri yang panggil koq aku mau, begitu katanya."
Hahh....woww....begitu, ya?! Sontak kejutan kecil menyetrumku.Tetapi kejutan ini tidak menyakitkan, malah menggelikan.
          "Oh..begitu. Ya sudah. Begini saja, Dok, datanglah ke rumah Pak RT, lalu titipkan obat di situ, akan aku ambil sendiri, lebih aman bagimu dan istrimu."
Begitu jawabku....dengan ledakan tawa tak beraturan, lirih di hatiku, bersamaan dengan kediaman yang sungguh hening. Senyap.
Semakin benar, bahwa setiap manusia memyimpan misterinya. Istri sang dokter adalah manusia, dan banyak yang lainnya, saling mengerumuni.
Aku, tepatnya kami, tak boleh bermain-main lagi menghadapi mereka. Aku tak lagi yakin, bahwa mereka memandang di antara kami tak ada yang istimewa.
Pastilah, setiap jiwa yang hidup itu, punya banyak pertanyaan tentang siapa kami, bagaimana kami. Mereka, termasuk istri sang dokter itu, tak tampak punya pertanyaan, karena sudah menyediakan jawaban yang pasti, menurut versi sendiri-sendiri.
Oh...Dokterku, istrimu cemburu padaku.

(Bohong jika kukatakan "baca saja, tidak perlu komentar" atau "tidak mengapa kalo kamu gak mau baca, aku cuma pengin nulis, koq".
Lha wong nulis sesuatu di ajang publik seperti ini, tentu berharap untuk dibaca 'kan? Terima kasih saja jika ada yang bersedia menilainya. Salam sebelum dan sesudah baca.)
· · Bagikan · Hapus

  • Yeti Partiningrum dan Indar Wati menyukai ini.
    • Muji Burokhman ga tau td penasaran ....mindsetku bahwa wiwit penyadur karangan terpatahkan. hehe.ayo trus berkreasi lg
      Kamis pukul 4:28 melalui Facebook Seluler ·
    • Ida Cholisa perasaan aku gak pernah tuh liat dokter nganter obat ke pasien? dokter kurang kerjaan tuh, heheheheeee......, pissss....
      Kamis pukul 7:35 ·
    • Teguh Christiyono Yg aku tahu... Rekan2ku yg pandai menulis cerpen, novel, atau esssay cuma Ida Cholisa, Hastati, Yogi.. Bagus jg Wiwit... aku bisa paham dan ngerti maksud dr cerita itu... Sb bahasanya sederhana dan pas.
      Kamis pukul 8:21 melalui Facebook Seluler ·
    • Ida Cholisa Guh...., kowen arep pesen novel ke-3 ku pora? heheheeee....
      Kamis pukul 8:24 ·
    • Teguh Christiyono kalau pesan caranya bagaimana... Ida..??
      Kamis pukul 8:26 melalui Facebook Seluler ·
    • Ida Cholisa Inbox aja alamatmu Guh..., tar kukirim. harga buku 45 ribu plus ongkos kirim. suwun yoooo....
      Kamis pukul 8:27 ·
    • Teguh Christiyono coba ntar kau kirim no hp kamu ke 081567844455 ya..
      Kamis pukul 8:34 melalui Facebook Seluler ·
    • Ida Cholisa oke....
      Kamis pukul 8:36 ·
    • W Wt Hidayati ‎@Muji Burokhman itu original produk Taman, Muji.
      Kamis pukul 8:53 ·
    • W Wt Hidayati ‎@Ida Cholisa Siapa bilang tidak ada...?! In that fact...yes.
      Kamis pukul 8:54 ·
    • W Wt Hidayati ‎@Teguh Christiyono ah, aku nulis thok...asal, sembarangan, serampangan,...tapi aku suka yang unik2.
      Kamis pukul 8:56 ·
    • W Wt Hidayati Based on the true story...tepat seminggu yang lalu. Believe or not.
      Kamis pukul 9:16 ·
    • Inayah Wjayani Aq suka...! Pilihan katamu unik... Makasih, y, sambil nunggu suami dpijat mbah2, aq jd pny wkt u ikut mdukungmu...
      Kamis pukul 10:43 melalui Facebook Seluler ·
    • Dean Sarie MBanjar Rupane akeh konco" sing seneng nulis. Tulisane yo apik", berkelas. Aq yo sering nulis tapi nulis bon.
      Kamis pukul 12:01 melalui Facebook Seluler ·
    • Triana Dewi Seneng aq bs menikmati notes tmn2..tp tuk bikin sndiri koq bingung hrs mulai dr mn..pdhl segudang cerita numpuk di benak...
      Kamis pukul 22:37 melalui Facebook Seluler ·
    • Dean Sarie MBanjar ‎@triana. Bongkar bae gudange. Terus dipindah. Mengko nulisane kpenak. Ada yg mo bantu?
      Kamis pukul 23:12 melalui Facebook Seluler ·
    • Triana Dewi Dean:) meh ngrewangi pow?
      Kamis pukul 23:17 melalui Facebook Seluler ·
    • Elsi Joe Nice story and nice writing Wiiwit! Like it! Banyak istilah yang aku suka...ayo Wit nulis lagi! Writing can be a suplement for soul hehehe...
      Kemarin jam 7:55 ·
    • Dean Sarie MBanjar ‎@triana bila diperlukan.
      Kemarin jam 8:39 melalui Facebook Seluler ·
    • Keny Pemalang ‎..ide cerita mgkn sederhana.,tentang cinta.,cinta y samar.,cinta terpendam atau per-selingkuhan hati mungkin..?tapi tulisan ini bwtku mjd sgt istimewa..,cara berceritanya 'extra ordinary'.,sungguh tak biasa.,unik,menarik..hehe..kalo bwtku 'par exellence'..jika penilaian dg bintang skala 1-4.,maka aku sematkan bintang 4 didadamu wit..,teruskan bakatmu wit..!
      Kemarin jam 9:34 melalui Facebook Seluler ·
    • W Wt Hidayati ‎@Elsi Joe,@Dean Sarie MBanjar: terimakasih dukungannya. Kenapa, sih, perasaan biasa aja. But...tetap matur nuwun semuanya.
      22 jam yang lalu ·
    • W Wt Hidayati ‎@Inayah Wjayani Mba, Yani, lama tidak dengar kabarmu. Semoga selalu penuh berkah Alloh. Hmmm....kisah itu memang unik tapi nyata.
      22 jam yang lalu ·
    • W Wt Hidayati ‎@Triana Dewi ayao,...tulis aja, ora usah kakehan pikiran, disukai orang atau tidak, dikritik pedas apa manis apa asin, silakan orang gimana. Ayooo....timbang korupsi lebih baik nulis. Haaaa.......
      22 jam yang lalu ·

Senin, 25 April 2011

BOL POL

BOLA POLITIK

oleh W Wt Hidayati pada 30 Desember 2010 jam 14:42
Sebenarnya, aku selalu bertanya, lebih menarik mana...Bola atau Politik ? Apakah sepakbola, sehingga politik ikut ngrangsek ke lapangannya...? Atau politik, sehingga sepakbola pun memanfatkannya ?
Yang jelas....diantara keduanya ada media informasi. Media itulah yang dapat menggunakan keduanya untuk menarik, mengolahnya menjadi pemicu gelombang polemik.
Aku masih tidak tahu. Makanya, aku tidak bisa menyalahkan mana yang mesti bertanggungjawab jika sepakbola kita belum memberi kepuasan pada rakyat Indonesia.
Bagaimana kalau begini saja...entah bola atau politik...kita benahi saja apa yang paling dekat dengan kita. Pendidikan moral, eh, sekarang pendidikan karakter bangsa, ding.
Bukan aku mengatakan moral kita telah rusak, lho. Tapi...ya...memang sepertinya mau begitu sih.
Sungguh, aku hanya seorang ibu, yang kebetulan punya perhatian ke sepakbola, dengan 3 anak kecil. Kebetulan juga ada banyak anak orang lain, pribadi-pribadi tempat aku membagi sedikit ilmu kehidupan.
Bola atau politik...menang atau kalah...bukan masalah, yang aku inginkan, menjadi bangsa yang luhur budi pekertinya di semua segi kehidupan.
Jadi, semoga tak perlu lagi ada kepentingan sendiri yang mengorbankan orang lain, tak ada "wajah-wajah dusta yang tega tertawa sementara korban menjerit di kedua kakinya", dan para "informan" media informasi...anda juga punya peran penting membentuk  kepribadian kami.
(Ternyata terpenuhi sebuah pemikiran seorang teman, bahwa aku akan menulis tentang Bula-bula Pulitik. He..hee...salam)
· · Bagikan · Hapus
  • Insan Adjie menyukai ini.
    • Fatimah Fadli Memang kerjanya media, nggatuk2no suatu kejadian. Lha kalo yg nonton bola kmrin adalah para guru, lain lgi ceritanya, jadi "bula bula buguru".
      30 Desember 2010 jam 14:51 melalui Facebook Seluler ·
    • W Wt Hidayati Hahahahaa....Fetty bisa aja. Tapi memang teman-teman guru dho nonton, koq.
      30 Desember 2010 jam 14:53 ·
    • Insan Adjie Kalo masalah politik emang jauh2 dari hidupku....tapi setuju banget tuh kalo kita benahi apa yang perlu dimulai dari yang terdekat dan utamanya dari diri kita masing2 dulu....kasih teladan dan contoh yang baik.....nice note jeng.....
      30 Desember 2010 jam 15:17 ·
    • Priyo Utomo Bu Wiwit, Panj. kayaknya lebih patut menjadi seorang wartawan daripada jadi guru. Ulasan anda sangat baik. Bisa menghubungkan antara sepak bola, nasionalisme dan pendidikan karakter bangsa. Salut buat Panjenengan bu.
      30 Desember 2010 jam 15:30 ·
    • Jhon N Sarjono Kau membicarakan keterkaitan bola dan poitik yang menarik hati media, ya..
      He.he..
      30 Desember 2010 jam 15:55 melalui Facebook Seluler ·
    • W Wt Hidayati ‎@Jhon : media yang bisa membelokkan perhatian kita, bikin bingung fokusnya apa..sepakbola koq tekane prngrf juga.
      30 Desember 2010 jam 18:37 ·
    • W Wt Hidayati ‎@Pak Priyo : wartawan mobilitasnya tinggi, dia gak cocok kalo banyak diam di rumah...jadi, gak bisa, Pak. Aku orang rumahan....ha...haa...
      @Insan: Thank you...'n setuju, Bu.
      30 Desember 2010 jam 18:41 ·
    • Jhon N Sarjono Wit..maksud gw paragraf pertama lbh cocok politisasi sepakbola atau sebaliknya..
      30 Desember 2010 jam 18:53 melalui Facebook Seluler ·
    • W Wt Hidayati ‎@@Jhon: iya..memang...terus kucampur aduk lainnya, semrawut ya Pak?
      30 Desember 2010 jam 19:02 ·
    • Sasmito Ruba'i Bagaimana pula dgn "Bola-bola Hati" setiap kita, di relung setiap anak bangsa?
      30 Desember 2010 jam 19:26 melalui Facebook Seluler ·
    • W Wt Hidayati Sas...senenge nggulirke bola-bola, sih.
      30 Desember 2010 jam 19:31 ·
    • Yogi Hartono
      Wit, ono loro aliran nang media, universalitas serta konstruktifitas. Yang pertama pendekatannya media itu bebas nilai, ukurannya kuantitatif, penekanan pada pemberitaan sebuah realita.
      2. Dalam konstruktifis, media harus punya nilai. Pendek...atannya kualitas. Fungsi media tak sekedar menampilkan realitas tapi juga mengkonstruksi realitas. So penekanan lebih ke subyeknya bukan obyeknya.

      Coba wiwit sekarang kamu petakan korelasi bola, politik dan media.
      Lihat Selengkapnya
      30 Desember 2010 jam 20:24 melalui Facebook Seluler ·
    • W Wt Hidayati
      ‎@Yogi Hartono : khusus untuk moment AFF kemarin, koq Yogi. Memang agak kubuat kabur catatan itu...biar gak vulgar...cuma karena sedikit sewot aja. Ketika ada fenomena sedikit cerah pada sepakbola kita, lalu masuk kepentingan politik sebuah... pihak/lebih mungkin, ke dalamnya. Lalu, maaf,....kupikir bahwa banyak hal dalam negara kita ini yang menjadi begitu rame, karena media lah yang mampu meramekannya. Aku menyatukannya jadi satu...lalu aku bertanya, mengapa untuk sepakbola kita, tidak ada fokus perhatian ? Mengapa menjadi ke arah lain-lain, sampe ke......ini yang kututupi....simbol-simbol pornografi ? Di sebuah pembicaraan yang kualami...ketika kita sedang membahas serius sepakbola kita, tiba-tiba pembicaraan itu berubah arah tentang....kau tahulah, Azhari, Jupe, maaf....!!!
      Materi tentang korelasinya sebenarnya bukanlah ynag bisa kubahas, karena justru aku mempertanyakan...apa yang terjadi pada negara kita ini ?
      Dan ternyata....yang kutulis pada akhirnya tentang diriku dan keetidakpahamanku mengenai semua itu.
      Dan terima kasih detail penjabaranmu tentang dunia media itu. Sedikit-sedikit 'kan aku jadi ngerti teorinya. Memang itu yang ingin kuperoleh, tahulah...mengapa aku tag kamu, sebagai pemeran penting dunia media kita.
      Gak nesu, tho?
      Lihat Selengkapnya
      30 Desember 2010 jam 23:22 ·
    • Yogi Hartono
      Wiwit aku ra nesu he he he aku paham yen media juga punya kepentingan. Siapa pemodal dibelakang media juga bisa mempengaruhi konten pemberitaan. Contohe mungkin gak tv one, antv memberitakan kasus lapindo? Rcti membahas kasus sisminbakum, d...etik com gak kritis ttg krakatau steel, atau indosiar ttg kaburnya phiong? He he

      Tentang bola beberapa media terjebak dam jurnalisme lebay, berlebihan, mendompleng trending agenda. Jurinya kan pemirsa via remot control, klik
      Lihat Selengkapnya
      31 Desember 2010 jam 7:08 melalui Facebook Seluler ·
    • W Wt Hidayati Iya, bener, remote kontrol pegang peranan paling penting. Yen ora manut Ummi, ta' banting kyeh. Ihh...galak nemen Ummi, begitu mungkin pikir anakku.
      31 Desember 2010 jam 8:01 ·

DUA PERTIGA PURNAMA

DUA PERTIGA PURNAMA

oleh W Wt Hidayati pada 17 Januari 2011 jam 1:56
Malam....
dengan sepi dan dingin....
kopi pun menemani
panasnya sesaat
hangatnya sekejap.
Sunyi....
tapi tidak benakku
tidak rasaku.
Kamu....
Satu saja sosok seperti dirimu
menyempitkan ruang luangku
meluaskan titik pandangku.
Kamu....
tak aku mengerti dimana
tapi ada di aneka nuansa.
Malam....
dengan bulan dua pertiga
menjelang purnama.
Sunyi....
tidak nadiku
tidak batinku
Kamu....
apa yang bisa kupahami ?
Aku hanya rindu.....tentangmu.
Hanya.
· · Bagikan · Hapus

    • Elsi Joe Wuft! Malam...aku selalu menyukai hening dan perasaan menyatu.... Tulisanmu sangat mewakili perasaanku, Wit... Like it! :)
      17 Januari jam 5:22 melalui Facebook Seluler ·
    • Hastati Hendriani wuuuiiihhh cerita tentang rindu di mlm purnama yang tak sempurna, rasanya rindunya ikut kurang sempurna ya he he...
      17 Januari jam 11:32 ·
    • W Wt Hidayati ‎@Ani: Rindu yang tak sempurna itulah, An, yang terus mendendam.
      17 Januari jam 13:52 ·
    • W Wt Hidayati ‎@Elsi: karena ada kopi...setiap ada kopi...terlintas kamu dibenakku.
      17 Januari jam 13:54 ·

SERI PETUALANGAN

SERI PETUALANGAN: Penjual Nasi Goreng yang Sholeh

oleh W Wt Hidayati pada 15 Januari 2011 jam 9:38
Suatu sore yang indah, aku harus pergi ke kota, untuk memenuhi keinginan anak lelakiku yang minta nasi goreng. Kebetulan lauk dan sayur pun telah habis tak bersisa, sehingga untuk makan sore aku harus memasak lagi. Aku pikir, beli sajalah sayur sop, capcay, dan gorengan. Sederhana dan praktis.
Maka berangkatlah aku menuju ke sebuah jalan yng menuju arah bioskop di kota Pemalang. Di situ ada penjual nasi goreng yang sekaligus menjual sayur sop. Sebetulnya , banyak sekali penjual-penjual nasi goreng, mie goreng, dan mie rebus, di sepanjang jalan kota. Rasanya juga relatif tak berbeda. Tak ada yang terasa enak sekali atau istimewa, kecuali kalau berdasarkan selera masing-masing orang.
Sebelum membeli nasi goreng, aku terlebih dahulu membeli keperluan lain, termasuk mendoan. Ketika sampai di nasi gorengan itu, hari sudah menjelang maghrib. Di sana si penjual yang terdiri dari 3 orang pemuda, sedang memasak untuk melayani dua pembeli. Jadi, aku harus antri menunggu giliran dilayani. Salah seorang pemuda kemudian menanyakan dulu pesananku.
            ”Ibu pesen nopo?” tanyanya dengan sangat santun.
            ”Nasi goreng, nggih, setunggal, mboten pedes blas, sop satu, capcay satu, mboten pedes kabeh, nggih Mas?” aku menjawab dengan bahasa campur baur sesukaku.
            ”Nggih, Bu.”dia mengiyakan sambil tersenyum.
Ketiga pemuda itu tampak sangat biasa. Tidak dapat dikategorikan ganteng secara umum, tetapi juga tidak jelek. Mereka dipandang enak, dengan penampilannya yang rapi dan bersih, dengan sikapnya yang sopan dan senyumnya yang mengembang.
Sambil menunggu, aku meminta segelas teh hangat, sementara keduanya sibuk memasak. Pemuda yang satunya, kulitnya putih, tampan, tampaknya dialah pemilik jualan mungkin, karena aku lihat dialah yang menerima pembayaran dari pembeli setelah mereka menerima pesanannya.
Nah, setelah beberapa saat, pemuda tadipun menghampiriku, lalu berkata.
            ”Nyuwun sewu, Bu, kami mau ke masjid dulu. Ibu mau menunggu boten?” tanyanya, sama sepertiku, bahasanyapun gado-gado.
Aku agak kaget. Baru kusadari, waktu maghrib telah sedari tadi. Aku tak segera menjawab, malah dengan sedikit blo’on aku menatapnya. Dia pun mengulang lagi,
            ”Ke masjid dulu, Bu, pripun?”
            ”Oo...hmm...nggih-nggih, kulo nunggu mpun.”jawabku.
Ketiganya lalu pergi, meninggalkan gerobak, aku, dengan sejuta pikiran berkecamuk di benakku.
            Aku memandang ketiga penuda tadi berjalan menjauh, terpesona.
Ternyata sudah maghrib, dan aku masih diluar rumah, mencari makanan untuk memenuhi rasa lapar. Sementara mereka dengan enaknya meninggalkanku, tak peduli dengan urusan rejeki. Tak kuatir jika aku atau mungkin orang lain, bisa saja mencuri barang dagangan mereka. Tak cemas bisa saja aku kecewa, lalu tak membeli lagi dagangan mereka. Tak peduli, tidak takut apapun urusan dunia. Mereka lebih ghirah menjemput kenikmatan akhirat. Mereka takut ketinggalan waktu sholat, mereka malu jika harus berlama-lama menunda sholat.
            Dan aku setia menunggu, dengan rasa malu. Malu pada diriku sendiri, malu pada anak-anak di rumah, malu dengan nasihatku sendiri pada mereka. Betapa selama ini aku selalu meminta mereka untuk tepat sholat. Malu pada suamiku yang terus menerus mengingatkanku, berusahalah untuk maghrib sudah berada dalam rumah, Mi, dampingi anak-anak sholat dan muroja’ah. Malu pada Tuhanku. Bagaimanapun, aku tak bisa menggunakan dalih, bahwa aku pergi toh untuk menyediakan makan bagi anak-anakku, bahwa aku adalah ibu yang baik, dsb dsb. Ongkos alias omong kosong. Kenyataan, aku sudah mengabaikan hal paling penting untuk kehidupan akhiratku.
            Dan aku tetap menunggu, sambil belajar, dari tiga orang penjual makanan pinggir jalan. Bahwa aku tak lebih tinggi derajatnya dari mereka. Pendidikanku duniaku mungkin jauh lebih tinggi dari mereka, tetapi pendidikan akhiratku ternyata nol.
Aku harus belajar mengatur waktu lebih baik lagi.
(SUNGGUH AKU TAK DAPAT KATA PAS UNTUK JUDUL KISAHKU ITU)
· · Bagikan · Hapus
  • Reni Febriani dan Insan Adjie menyukai ini.
    • Fatimah Fadli Tanpa judul pun aku bsa mencerna catatanmu. Memang, kadang kta merasa dibandingkan orla, tapi kenyataannya kta bukan apa2. Aku mau introspeksi dulu ah..
      15 Januari jam 11:50 melalui Facebook Seluler ·
    • Sahru Ramadhan Alhmdulilah..
      Kita harus lebih sering&lebih bnyak brsukur lagi...
      ..skitar kita msih bnyak,utk djadikan i'tibar/pelajaran.
      15 Januari jam 13:45 melalui Facebook Seluler ·
    • Hastati Hendriani Jadi ikut malu aku setelah baca cttnmu ini, soalnya gw jg sering begitu.
      15 Januari jam 15:31 melalui Facebook Seluler ·
    • W Wt Hidayati ‎@Fetty: tapi, tolong, dong kasih saran buat judulnya.
      @Sahru, Ani : meski malu, aku makin sering beli di situ, tapi atur waktu biar gak ditinggal lagi. he..hee...
      15 Januari jam 15:45 ·
    • Anggaraini Maulina K Aku sih ga mrs berdosa2 amat krn klo aku ngalami bgt, swamiku msh ridho krn keluar rmh demi kep kel dan akupun sll diantar swami...so buatku...No problem at all.........
      15 Januari jam 18:00 ·
    • Yogi Hartono Wiwit, critemu runtut, reflektif dan kompletatif. Sip.
      15 Januari jam 21:36 melalui Facebook Seluler ·
    • Elsi Joe Judulnya "Tukang Nasi Goreng yang Shaleh" :)
      16 Januari jam 16:09 ·
    • Insan Adjie Refleksi.......I like Ur notes...
      16 Januari jam 19:08 ·
    • Yogi Hartono Judulnya "petualangan wiwit; eps; wiwit dan 3 penjual nasi goreng"
      16 Januari jam 19:16 melalui Facebook Seluler ·
    • W Wt Hidayati ‎@Yogi: Yogi, dipaparkanlah...maksude reflektif dan kompletatif itu kenapa? Makasih, ya.
      17 Januari jam 1:18 ·
    • W Wt Hidayati ‎@Elsi: judul yang sederhana, jelas, gak pake mikir lama. Thank you, L.
      @Yogi: iya apa ya? Biar kayak lima sekawandan sejenisnya, cerita petualangan memang favoritku.
      17 Januari jam 1:21 ·
    • W Wt Hidayati ‎@Insan Adjie: matur nuwun, Mba.
      17 Januari jam 1:22 ·

MALU KITA

      Sungguh mujarab !   Menjadi asyik maksiat   Membuat sebab khianat   Betapa dahsyat !   Meruntuhkan iman  Menghapus peradaban.