Rabu, 28 Agustus 2013

POLIGAMI

"Seandainya suamimu menikahiku, kau boleh tidak?" begitu pertanyaanku padamu.
Kau tak segera menjawab. Hanya matamu menatapku...teduh. Tak menyorotkan keterkejutan. Kau tersenyum dan menjawab dengan tenang,
"Sepertinya tidak."
Aku pun tersenyum. Itu jawaban wajar, dan sudah kuduga tentunya. Tapi tetap saja aku bertanya.
"Kenapa?"
Tiba-tiba matanya berubah. Tajam menembus jantungku. Dan kata-kata tegas itu pun meluncur deras, tak terbendung. Laksana tsunami menggerus bumi.
"Kau bukan wanita yang tepat untuk suamiku. Aku mengenalnya betul, jadi seleranya tentang wanita pun aku paham betul. Kau sama sekali tak mendekati seleranya. dengan itu, aku tak mungkin mengijinkanmu menikah dengannya. Tapi masalahnya, dalam memilih wanita lain, dia sangat mempertimbangkan seleraku. Maka, aku  menjadi  orang pertama yang akan dimintainya saran. Percayalah, dia hanya akan menikah dengan orang yang aku setujui. Dan aku hanya memilih wanita yang berkualitas, dan dapat memberiku jaminan, bahwa suamiku dapat lebih berbahagia saat bersamanya. Nah,...bisakah kau memberikan jaminan itu?"
Mendengar itu, aku tak berdaya......betapa tangguhnya dia.

AT LAST


At last, I found two meaningful ones in my life, that I look for long time.
He and she is.
My joyful.

Selasa, 02 Juli 2013

SUNATAN

Sabtu, 29 Juli 2013, pk. 08.10 kemarin khitan my first junior. This' my first experience seeing process of khitan. Mendebarkan, memilukan, tapi juga menggelikan.
Kami hanya menyelenggarakan acara keluarga sederhana, tetapi meriah, karena tetap saja banyak tetangga yang datang untuk kondangan.
Untungnya, kami menyediakan cukup hidangan bagi mereka, bahkan sampai berlebih-lebih. Itu karena prinsip dari awal adalah kami ingin mengadakan syukuran, yang dinikmati banyak tetangga, dan penuh barokah dari Alloh SWT.
Alhamdulillah, kini anakku sudah khitan, dan itu adalah awal dia menuju ke fase dewasa. Itu atinya, dia telah menapak masa dimana hukum agama Alloh berlaku baginya.

Sabtu, 23 Februari 2013

REJEKI >< SERTIFIKASI

Tak banyak yang tahu, kalau kepercayaan diriku benar-benar hancur, gara-gara urusan dapodik.
Padahal dari awal aku memang tak begitu peduli, tapi.....kenapa jadi begini ?
Ketika dapodik dibidik hanya dari sisi "uang sertifikasi", banyak yang lupa tentang "perasaan".
Jika kubilang aku tak mementingkan "uang", aku sendiri pun tak mungkin percaya.
Sesungguhnya aku memang suka uang.
Tapi aku tak mau mengejarnya semata.
Rejeki telah Allah tetapkan, arah dan takarannya, tak siapapun bisa mengubahnya..
Jadi, kenapa mesti ribut-ribut soal itu ?
Karena siapapun  membutuhkan kenyamanan dalam interaksi kesehariannya, maka, please.....!!!
Bertoleransilah terhadap sekitar kita.

MALU KITA

      Sungguh mujarab !   Menjadi asyik maksiat   Membuat sebab khianat   Betapa dahsyat !   Meruntuhkan iman  Menghapus peradaban.