Jumat, 31 Desember 2010

PECAHAN


 Anakku kelas III SD. Untuk ulangan akhir semester ini, besok dijadwalkan Matematika. Dia sedang belajar dengan berlatih soal-soal tes tahun lalu. Salah satu soal berbunyi :
          APABILA 1 M = 100 CM, MAKA 2,5 M ADALAH . . . CM.
Aku agak sewot dengan bentuk soal semacam itu. Aku mempertanyakan terus, apakah materi Pecahan sudah diajarkan ? Dia bilang belum. Tentu saja aku tahu belum, wong jelas di kurikulum SD nya dan di banyak buku materi, PECAHAN diberikan di semester 2. 
          Aku mempertanyakan itu kepada hati dan otakku, bukan cuma lantaran alokasi waktu pembelajarannya, melainkan karena kuanggap...itu soal sungguh kejam. Okelah,....mungkin di SD-SD lain yang berkategori unggulan itu sudah diberikan dan relatif diterima mudah oleh anak-anak, tapi tetap saja menurutku, terlalu berlebihan untuk diterima dalam ranah pemahaman bahasa anak seusia itu.
          Mari kutunjukkan dimana 'keterlaluan'nya :
1. Bentuk 2,5 adalah pecahan dalam bentuk desimal. Anak akan membaca "DUA KOMA LIMA". Sebelum materi PECAHAN diberikan, jelas anak tak mengenal arti PECAHAN. Apalagi untuk mengenal arti dari "DUA KOMA LIMA". 
2. MATEMATIKA adalah Bahasa Khusus yang juga punya arti, yang sangat bergantung juga pada BAHASA UMUM, dalam hal ini bahasa sehari-hari kehidupan kita. Maksudku....Matematika bukanlah tampilan angka-angka tanpa bunyi. Dia memerlukan penampilan yang kontekstual agar mudah dimengerti artinya, sebagai syarat berlakunya fungsi matematika sebagai pelayan ilmu manusia.
3. Anak-anak usia SD masih dalam ranah berpikir kongkrit. Untuk mudah memahami sesuatu, mereka memerlukan penjelasan yang kontekstual bahkan mungkin harus konkrit.
          Nah, untuk soal yang kubahas diatas, okelah, mari kita asumsikan materi itu telah diberikan dan anak-anak bisa menerimanya, tapi.....mari kita permak sebagai berikut, tanpa mengabaikan perkembangan penalaran anak-anak dengan usia SD, 
          JIKA 1 CENTIMETER ADALAH 100 CENTIMETER, MAKA DUA SETENGAH METER ADALAH ....CENTIMETER.
Terlalu panjang kalimatnya ?! Tidak matematis...?! Tidak boleh...?!
Ah,..mengapa ? Mengapa kita tidak kasihan mereka ? Aku tahu persis, bahwa anak-anak kelas III SD itu, masih sangat sulit untuk memahami pengertian suatu kalimat, masih tidak mudah untuk menceritakan kembali isi sebuah bacaan, masih belajar menulis, bahkan terkadang....banyak yang belum lancar membaca.
Mengapa kita begitu kejam, dengan membuat soal yang memuat bentuk bahasa yang sangat jauh diluar penalaran mereka.
Ah,......2,5...anakku pun membacanya DUA KOMA LIMA....tak berarti apa-apa, jadi tak berguna rasanya.
Kalo begini terus, panteslah Matematika adalah pelajaran yang paling sulit dan sulit disuka. Ya karena tidak kontekstual sehingga seolah....tak berhubungan apapun untuk menjalani hidup.
Ah,......2,5....anakku lalu bisa menjawab soal itu setelah kuberitahukan bahwa 2,5 adalah DUA SETENGAH. 
Ah,......maafkan jika aku banyak mengkritik, tetapi...itu juga kritikan untuk diriku sendiri, mungkin selama ini aku juga sering membuat soal-soal keterlaluan, 'wah dan tampak mewah', padahal pada konsep dasar pun mungkin anak belum menguasainya.
Ayo belajar membuat soal yang men'yayangi'.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MALU KITA

      Sungguh mujarab !   Menjadi asyik maksiat   Membuat sebab khianat   Betapa dahsyat !   Meruntuhkan iman  Menghapus peradaban.