Seorang anak lelaki menangis menjumpai ibunya, sesaat sesudah pengumuman nilai ujiannya.
"Kenapa, Nang...?" tanya sang Ibu lembut.
Sang anak dengan sesenggukan memeluk ibunya.
"Ibu, kenapa nilai matematikaku tidak 100 ?"
Sang ibu mengusapkan tangan di rambutnya, dan bertanya lagi,
"Lha berapa ?"
Sang anak melepaskan pelukannya. Kini dia menatap sang ibu, dengan sangat sedih,
"98, Bu, salah satu." begitu katanya.
Kini sang ibu tersenyum, dan berkata,
"Alhamdulillah, bagus sekali itu, Nak, kenapa harus 100 ?"
Sang anak menundukan kepalanya, air mata masih mengalir di kedua pipinya.
"Tapi, hampir semua teman sekelas dapat 100, aku tidak. Mereka banyak mengejekku, mereka bilang, sukurin sombong, gak mau bantu teman, gak solidaritas kelas, begitu Bu !"
Sang ibu kaget. Keningnya berkerut.
"Jadi waktu ujian mereka saling tolong menolong jawaban, gitu ? Dan kamu tidak ?" tanya sang ibu.
Sang anak mengangguk. Ibunya manggut-manggut. Dia mulai memahami jalan pikiran anaknya.
"Dengar, Nak, apa kamu selalu ingin dapat nilai tertinggi diantara mereka ? Ranking 1 terus ?" tanya sang ibu kemudian.
Sang anak tak menjawab. Dia hanya menunduk.
"Apa begitu yang ayah dan ibu selalu minta darimu ? Coba, Nak, lihat Ibu."
Sang anak mengangkat kepalanya. Dia menatap mata lembut ibunya. Sang Ibu tersenyum, dan berkata,
"Menurutmu, nilai 98 yang kau dapat itu benar tidak? Maksud, Ibu, memang benar-benar untuk 1 soal yang salah itu kamu memang tidak bisa mengerjakan ?" tanya sang Ibu memastikan.
Sang anak mengangguk.
"Dan nilai 100 untuk kebanyakan temanmu itu, menurutmu, sungguhkah mereka pantas menerimanya ?" tanya Ibu lagi. Kali ini sang anak menggeleng. Dan sang Ibu pun tersenyum.
"Kalo begitu, apa yang kau sedihkan, Nak ? Kau telah mendapatkan nilai yang benar dan tepat, sedang mereka dapat nilai palsu. Ingatlah ayahmu mengajarkan agar kau menjadi orang yang benar, mendapatkan tempat yang benar, di waktu yang benar, dengan niat, jalan dan tujuan benar, sungguh kau sangat beruntung, Nak..."
Sang anak menghela nafasnya mendengarkan sang ibu berbicara. Air mata itu kembali tergenang di matanya, sang Ibu lalu mendekapnya, mengusap-usap lembut kepalanya. Dengan penuh kasih, Ibu berkata,
"Sesungguhnya, kau hanya punya nilai 2, Nak. Nilai itu yang ditulis malaikat untuk dilaporkan pada Sang Pencipta. Yang 98 itu tulisan manusia, cuma dikertas, bisa dibakar dengan mudah, tertiup angin, termakan rayap...yang 2 itu menjadi tabunganmu di akhirat. Alloh akan menjaganya dengan baik. Percayalah, Nak."
Sang anak mendekap ibunya erat-erat. Air matanya deras mengalir, membasahi tubuh ibunya...membasahi bumi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar