"Seandainya suamimu menikahiku, kau boleh tidak?" begitu pertanyaanku padamu.
Kau tak segera menjawab. Hanya matamu menatapku...teduh. Tak menyorotkan keterkejutan. Kau tersenyum dan menjawab dengan tenang,
"Sepertinya tidak."
Aku pun tersenyum. Itu jawaban wajar, dan sudah kuduga tentunya. Tapi tetap saja aku bertanya.
"Kenapa?"
Tiba-tiba matanya berubah. Tajam menembus jantungku. Dan kata-kata tegas itu pun meluncur deras, tak terbendung. Laksana tsunami menggerus bumi.
"Kau bukan wanita yang tepat untuk suamiku. Aku mengenalnya betul, jadi seleranya tentang wanita pun aku paham betul. Kau sama sekali tak mendekati seleranya. dengan itu, aku tak mungkin mengijinkanmu menikah dengannya. Tapi masalahnya, dalam memilih wanita lain, dia sangat mempertimbangkan seleraku. Maka, aku menjadi orang pertama yang akan dimintainya saran. Percayalah, dia hanya akan menikah dengan orang yang aku setujui. Dan aku hanya memilih wanita yang berkualitas, dan dapat memberiku jaminan, bahwa suamiku dapat lebih berbahagia saat bersamanya. Nah,...bisakah kau memberikan jaminan itu?"
Mendengar itu, aku tak berdaya......betapa tangguhnya dia.
LOVE AND MATHEMATICS CAN'T BE FAR. I'LL CREATE LOVE AS BEAUTIFUL AS MATHEMATICS, AND MATHEMATICS AS SIMPLE AS LOVE.
Rabu, 28 Agustus 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
MALU KITA
Sungguh mujarab ! Menjadi asyik maksiat Membuat sebab khianat Betapa dahsyat ! Meruntuhkan iman Menghapus peradaban.
-
INDIA NA oleh W Wt Hidayati pada 14 April 2011 jam 1:03 Ada sebuah dialog yang berkesan, yang menjadi memoarku sampai sekarang. Di...
-
Merindukan seorang teman, janganlah disempitkan bentuknya, sebagai pertalian hubungan lain jenis semata, dengan pasion masing-masing. Mes...
-
Engkau suka akan sunyi ? Ah, niscaya belum pernah kau mengalami sunyi sempit mengurung sepi berat menghimpit Dan belum pernah kau merasa...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar