Prosa ini agak berbahaya, sisi liar dan kebebasan. Tapi baru sedikit. Aku masih tak berani terlalu total.
POINT OF FIRE (Rainy Desire)
Suatu ketika kau hadir. Kau berkeliaran. Wajahmu jenuh. Wajah yang telah meninggalkan banyak hati terluka, selama umurmu. Mata...yang seharusnya tertawa....terlihat sepi yang luar biasa.
Begitu kau memandang drimu, demikian juga semua orang. Aku tidak. Aku dapat melihat, tatapan memuja saat kau melintas ruangan, tatapan mengutuk, juga merajuk, setiap wanita yang pernah kau tinggalkan, tatapan kejam para pria, yang sulit mendapat kesempatan.
Tapi kau begitu lelah. Tawamu memudar, bahkan hanya untuk mengangkat sudut bibirmu 1 cm saja, terasa perjuangan berat.
Tapi suatu hari kau menatapku. Dan. Kau tiba-tiba berubah. Kembali hidup. Warna matamu berbeda, menyala, seperti serigala. Lalu aku adalah aku, yang dapat memberimu jalan, sampai tempat kau akan tertawa bebas atau hanya sesekali tersenyum. Meski bodoh.
Kau seperti tidak peduli, setiap berjalan disisiku. Dengan ribuan tatapan kecewa wanita-wanita. Sedang aku sibuk menahan. Gesekan bahumu, dengan hanya 2 cm jaraknya dari bahuku, cukup membuat jantungku jungkir balik.
Kau mengajariku untuk bisa dicintai. Untuk layak diingini. Setelah suatu ketika, kau kehilangan semua kenikmatan. Otot-ototmu melemah, seakan telah bercinta selama berabad-abad. Maka, kini, sepertinya aku yang berpengalaman. Kau menemukanku sebagai pemandumu.
Mengertilah kau kemudian, bahwa aku menjadi takdirmu. Meski tak tampak, aku tahu kau merasakan itu. Jika tidak, mengapa pula setiap aku dihadapanmu, matamu menggelap, rahangmu mengeras, dan bongkahan besar lewat dilehermu, kau nampak kesulitan menelannya.
Kau bilang, kau tak lagi punya kata-kata. Itu karena kau hanya ingin berbicara denganku, padaku saja.
Begitulah aku menggambarkanmu.
"Lalu bagaimana kau bisa menggambarkanku?" tanyaku lirih.
"Aha....aku akan menggambarkanmu, tapi aku perlu sedikit bantuanmu, karena aku tidak begitu sering membaca novel-novel, tak begitu paham sastra. Jadi, akan kugambarkan kau lewat jariku. Kau akan paham dengan mengikutinya." begitu jawabmu.
"Inilah kau," Dan mulailah jarimu, didahiku. Seperti sentuhan manis bayi. Lalu turun, membelai pipiku, kenyal dan lembut, dan terus meluncur, ke bibir, dan menerobos masuk. Aku dapat merasakan keras ibu jarimu bersamaan pekanya lidahku mengecap suhu tubuhmu. Keluar lagi, bergerak turun memberi tanda api yang membara dileherku.
"Dan beginilah kau," lanjutmu dalam desah yang menggeram. Seluruh jarimu terbentang didadaku. Menghitung, berapa kali jantungku berdetak. Aku bisa mendengarnya melalui hamparan jarimu.
Kemudian kebawah, hingga menemukan satu titik, lalu satu titik lagi disebelahnya.
"Siapa dan bagaimana kau, lihatlah," desahmu.
Aku mengikuti kemana arah jemarimu. Memutari dua titik merah jambuku, mempersembahkan kepada bibir terbukamu. Matamu terarah kaku, berubah warna menjadi gelap dan liar. Aku mengerti, aku seperti sebuah tanah baru, yang liar, hitam bagai hutan, dimana kau tidak akan bisa keluar, tidak pernah mau keluar.
"Ohh..." aku terkesima dengan yang baru kutahu, bahwa aku adalah tanah baru bagimu. Aku percaya padamu, bahwa aku adalah sepetak tanah, tempatmu berdiri menjulang. Hanya kau saja. Karena udara yang kuhembuskan hanya akan menyesakkan setiap orang, membuat mereka sulit bernafas, setiap ingin mendekati lekuk-lekukku.
Kau menatap memuja, menghempaskan dirimu, membenamkan semua pikiran yang berbahaya, pikiran yang membawa tangis di puncak kenikmatan.
Dan aku membeku, dicekam ketakutan, bahwa aku akan terus kehausan.
Kau sudah teramat lelah saat menemukanku. Kau menjadi tak berdaya, bahkan untuk berbasa-basi menyapaku. Kau mengeluhkan seluruh dunia yang telah kau habiskan kenikmatannya di masa lalu.
Tapi aku. Akulah yang akan membuatmu merasa punya berkah kembali. Aku menjadi anugerah yang tumpah ruah di matamu, bibirmu, tanganmu, bahumu, dadamu, hingga terus membuncah meresapi tanah.....
POINT OF FIRE (Rainy Desire)
Suatu ketika kau hadir. Kau berkeliaran. Wajahmu jenuh. Wajah yang telah meninggalkan banyak hati terluka, selama umurmu. Mata...yang seharusnya tertawa....terlihat sepi yang luar biasa.
Begitu kau memandang drimu, demikian juga semua orang. Aku tidak. Aku dapat melihat, tatapan memuja saat kau melintas ruangan, tatapan mengutuk, juga merajuk, setiap wanita yang pernah kau tinggalkan, tatapan kejam para pria, yang sulit mendapat kesempatan.
Tapi kau begitu lelah. Tawamu memudar, bahkan hanya untuk mengangkat sudut bibirmu 1 cm saja, terasa perjuangan berat.
Tapi suatu hari kau menatapku. Dan. Kau tiba-tiba berubah. Kembali hidup. Warna matamu berbeda, menyala, seperti serigala. Lalu aku adalah aku, yang dapat memberimu jalan, sampai tempat kau akan tertawa bebas atau hanya sesekali tersenyum. Meski bodoh.
Kau seperti tidak peduli, setiap berjalan disisiku. Dengan ribuan tatapan kecewa wanita-wanita. Sedang aku sibuk menahan. Gesekan bahumu, dengan hanya 2 cm jaraknya dari bahuku, cukup membuat jantungku jungkir balik.
Kau mengajariku untuk bisa dicintai. Untuk layak diingini. Setelah suatu ketika, kau kehilangan semua kenikmatan. Otot-ototmu melemah, seakan telah bercinta selama berabad-abad. Maka, kini, sepertinya aku yang berpengalaman. Kau menemukanku sebagai pemandumu.
Mengertilah kau kemudian, bahwa aku menjadi takdirmu. Meski tak tampak, aku tahu kau merasakan itu. Jika tidak, mengapa pula setiap aku dihadapanmu, matamu menggelap, rahangmu mengeras, dan bongkahan besar lewat dilehermu, kau nampak kesulitan menelannya.
Kau bilang, kau tak lagi punya kata-kata. Itu karena kau hanya ingin berbicara denganku, padaku saja.
Begitulah aku menggambarkanmu.
"Lalu bagaimana kau bisa menggambarkanku?" tanyaku lirih.
"Aha....aku akan menggambarkanmu, tapi aku perlu sedikit bantuanmu, karena aku tidak begitu sering membaca novel-novel, tak begitu paham sastra. Jadi, akan kugambarkan kau lewat jariku. Kau akan paham dengan mengikutinya." begitu jawabmu.
"Inilah kau," Dan mulailah jarimu, didahiku. Seperti sentuhan manis bayi. Lalu turun, membelai pipiku, kenyal dan lembut, dan terus meluncur, ke bibir, dan menerobos masuk. Aku dapat merasakan keras ibu jarimu bersamaan pekanya lidahku mengecap suhu tubuhmu. Keluar lagi, bergerak turun memberi tanda api yang membara dileherku.
"Dan beginilah kau," lanjutmu dalam desah yang menggeram. Seluruh jarimu terbentang didadaku. Menghitung, berapa kali jantungku berdetak. Aku bisa mendengarnya melalui hamparan jarimu.
Kemudian kebawah, hingga menemukan satu titik, lalu satu titik lagi disebelahnya.
"Siapa dan bagaimana kau, lihatlah," desahmu.
Aku mengikuti kemana arah jemarimu. Memutari dua titik merah jambuku, mempersembahkan kepada bibir terbukamu. Matamu terarah kaku, berubah warna menjadi gelap dan liar. Aku mengerti, aku seperti sebuah tanah baru, yang liar, hitam bagai hutan, dimana kau tidak akan bisa keluar, tidak pernah mau keluar.
"Ohh..." aku terkesima dengan yang baru kutahu, bahwa aku adalah tanah baru bagimu. Aku percaya padamu, bahwa aku adalah sepetak tanah, tempatmu berdiri menjulang. Hanya kau saja. Karena udara yang kuhembuskan hanya akan menyesakkan setiap orang, membuat mereka sulit bernafas, setiap ingin mendekati lekuk-lekukku.
Kau menatap memuja, menghempaskan dirimu, membenamkan semua pikiran yang berbahaya, pikiran yang membawa tangis di puncak kenikmatan.
Dan aku membeku, dicekam ketakutan, bahwa aku akan terus kehausan.
Kau sudah teramat lelah saat menemukanku. Kau menjadi tak berdaya, bahkan untuk berbasa-basi menyapaku. Kau mengeluhkan seluruh dunia yang telah kau habiskan kenikmatannya di masa lalu.
Tapi aku. Akulah yang akan membuatmu merasa punya berkah kembali. Aku menjadi anugerah yang tumpah ruah di matamu, bibirmu, tanganmu, bahumu, dadamu, hingga terus membuncah meresapi tanah.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar